GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
27/1/2018 17:15:10
4115

Episode 47: Habis Gagal, Muncul Pragmatisme Mbak Pur

Harianlampung.com - Seperti ketika kisah ini dimulai, upaya yang dilakukan Mbak Pur menggeruduk partai politik, tak membuahkan hasil. Syahwat perempuan setengah baya ini ingin mengatur agar Juned hanya berhadapan dengan Mustajab pada pemilihan gubernur mendatang, berakhir sia-sia.

Musim berganti. Dari kegiatan penyemprotan hama dan pupuk, ketika menyerang parpol-parpol, kini memasuki musim menanti panen. Banyak tantangan yang akan dihadapi. Mulai dari ketersediaan pestisida, hingga kecakapan dan ketanggapan pasukan mengantisipasi serangan hama. Bisa Wereng hingga Ular Kadut yang bermunculan. Disini akan diuji kualitas bibit yang ditanam Mbak Pur. Panen dengan hasil melimpah atau berakhir dengan sumpah serapah.

Mbak Pur dengan seambrek konsultan politik yang tak mengerti lapangan, baru tersadar. Bibit yang disemai mereka, Juned, tak layak tanam. Hama malah kian bertambah, manakala dengan kecentilan Nyonya Centil berhasil menanamkan simpati yang mendalam. Mbak Pur dan Juned pun belakangan jatuh hati, sejak kerap joget bersama, Mbak Pur memutuskan meminang Nyonya Centil untuk Juned. Menjadi pasangan Juned pada kontestasi meraih kursi Ronald.

Bila dirunut kebelakang, merujuk hasil evaluasi konsultan politik Mbak Pur, muncul beberapa point yang menjadi penyebab kegagalan mengumpulkan partai. Semestinya, mulai dari Hati yang Luka, Kutu Sapi, Anak Nakal, Gergaji, Kutu Busuk sudah cukup dingin masuk dalam genggaman. Tinggal akad nikah. Sementara semangat menaklukkan Daun Itunya Pepaya, berkompetisi dengan Hermanus dan Ronald, juga tinggal didepan mata.

Mengapa Mbak Pur gagal meraih keberhasilan pada tahap penyerbuan partai? Ternyata hanya satu penyebabnya, bibit yang diusung, Juned, ditolak oleh kumpulan dewa-dewa partai. Mereka merujuk pada prilaku pribadi Juned dan hasil survey berbagai lembaga.

Selain itu, jaringan intelijen partai-partai menangkap kuat adanya penolakan campur tangan terlalu jauh yang dilakukan Pabrik Permen terhadap Juned. Tak ada yang suka dengan boneka cukong. Apalagi Mbak Pur tampil dengan terbuka. Secara nyata terlihat dan dirasakan oleh publik. Setiap hari, melalui kerja kacung mereka di persatuan WRC (Wartawan Rangkap Calo), aktifitas Juned dan Nyonya Centil nyabut bulu kaki atau hanya memotong kuku, menjadi bahan publikasi. Publik jengah. Sudah jengah terhadap Juned dan Nyonya Centil, jengah pula melihat ulah Mbak Pur yang mengukur suara warga dengan kekuatan uang. Masyarakat sadar bahwa tumpukan dolar Singapura itu, merupakan hasil penggelapan dari transaksi-transaksi dalam pengelolaan Pabrik Permen.

Batalnya Hati yang Luka, Kutu Sapi, Gergaji berkoalisi, bukan karena faktor jumlah dolar Singapura. Hanya karena kepribadian dan prilaku Juned semata. Baru belakangan aspek penolakan bertambah. Itupun karena sikap jumawa Mbak Pur menebar semangat penjajahan di bumi Pabrik Permen.

Lantas mengapa Kutu Busuk dan Anak Nakal bergabung? Hanya karena faktor dolar Singapura yang berkali-kali ditambahkan akibat munculnya konflik yang diciptakan. Pointnya, Kutu Busuk dan Anak Nakal hanya ingin memorot Mbak Pur. Soal memenangkan Juned, tak jadi hitungan. Lho, Kog bisa? Bukankah Kutu Busuk menempatkan Nyonya Centil sebagai wakil?

Bagi pemerhati Kutu Busuk, hal yang demikian tidak mengejutkan, sudah menjadi pola. Apa ruginya Kutu Busuk? Tak ada. Gagalnya Juned meraih kursi gubernur, justru menguntungkan Kutu Busuk. Sebab, Kutu Busuk tak pernah bermimpi, apalagi berpikir ingin memindahkan kursi Nyonya Centil dari Lawang Timur. Tak percaya?

Simaknya dengan cermat, gerakan Nyonya Centil di kampung halamannya. Adakah upaya yang menunjukkan dia ingin pindah? Hampir tak ada. Mobilisasi massa dilakukan, bergerak meneriakkan penolakan terhadap langkah Nyonya Centil. Dikemas sedemikian rupa, muncullah tema menuntut pertanggungjawaban. Dan ini merupakan langkah persiapan untuk menjawab kegagalan yang sudah terbentang didepan mata.

Arus bawah Kutu Busuk menentang atas kebijakan semena-mena Dewanya Kutu Busuk. Disini, di daerah Nyonya Centil akan terjadi pertempuran sengit tiga kubu untuk meraih suara. Ronald dengan Gergaji dan relawannya melawan Mustajab dengan Kutu Sapi dan arus bawah Kutu Busuk, serta Hermanus dengan Daun Itunya Pepaya ditambah jaringan armada petani Sutikno. Sementara Juned dan Nyonya Centil yang diatas kertas bertempur di wilayah sendiri, melalui jaringan Go-Kart dan relawan yang dibekali modal pragmatisme (transaksional), sebatas terlihat ada kerja saja.

Melihat kondisi kekinian yang ada, strategi apa yang akan dimainkan Mbak Pur untuk memberikan kemenangan atas kekasihnya, Juned?

Secara keseluruhan, di setiap wilayah pemilihan, tak ada basis kuat yang dimiliki Juned – Nyonya Centil. Arus bawah partai yang mengusung dan mendukung, dengan suara lantang dan gerakan nyata, sudah melakukan penolakan terhadap pasangan pengantin Mbak Pur ini. Dan justru penolakan itu kuat terjadi di basis sendiri. Lawang Timur, Tulang Belida dan Way Kawan. Diwilayah lain, utamanya para pemilih yang ngerti politik dan paham informasi, termasuk generasi milenial, Juned – Nyonya Centil sangat tipis untuk meraih pemilih.

Mau tidak mau, pilihan strategisnya adalah menyasar masyarakat yang jauh dari jangkauan arus  informasi. Masyarakat yang berpikir pragmatis. Pola transaksional merupakan jurus jitu melakukan serangan infantri. Kebetulan Mbak Pur kuat dengan basis logistik, baik berupa dana cair ataupun sembako. Dan kelompok masyarakat ini, tingkat kehidupan ekonominya cukup memprihatinkan. Ada sekitar 30 persen mata pilih sejenis ini. Benarkah Mbak Pur akan all-out melakukannya?

Bila strategi pragmatisme ini gagal, Juned kandas. Lantas? Mbak Pur akan memantapkan serangan lobang belakang. Berpartisipasi dan menyasar pasangan kandidat lainnya. Termasuk menyasar partai pendukung. Siapakah yang menerima tawaran Mbak Pur? Pertama, bisa diukur, kandidat mana yang tidak menyoal nasib rakyat di dua kecamatan tetangga Pabrik Permen. Kedua, kandidat mana yang tak menyoal penderitaan rakyat karena aliran listrik yang dihalangi Pabrik Permen.