GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
04/2/2018 15:41:22
3355

Adem Dikursi Gubernur, Raih 33 persen Suara

Harianlampung.com - Sepanjang informasi yang beredar di ruang publik, hanya tersisa satu minggu bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung untuk menetapkan pasangan kandidat Gubernur/Wakil Gubernur. Tampaknya, pasangan Muhammad Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, Herman HN – Sutono, Mustafa – Ahmad Jajuli, dan Arinal Djunaidi – Chusnulia Chalim akan mulus ditetapkan sebagai peserta Pilkada Gubernur (Pilgub) Periode 2019 – 2024.

Nanti, usai ditetapkan menjadi peserta, keempat pasangan kontestan akan memasuki tahapan menentukan nomor peserta Pilgub. Tentu saja, nomor-nomor urut peserta akan menjadi sebuah “tanda jual” yang akan disosialisasikan kepada masyarakat pemilih. Diperkirakan ada sekitar 6 juta pemilih yang akan mencoblos foto bernomor para kandidat pada 27 Juni 2018.

Pasangan Ridho - Bachtiar digerakkan oleh dukungan 198 kader partai politik yang duduk di lembaga legislatif se-Provinsi Lampung. Terdiri dari 79 kader Partai Demokrat, 87 kader Gerindra, 27 kader PPP, dan 5 kader PBB.

Sementara pasangan Herman HN – Sutono memiliki dukungan 143 orang anggota legislatif dan  memegang posisi menjadi 11 Ketua DPRD. Pasangan Mustafa – Ahmad  Jajuli didukung 146 jaringan anggota DPRD. Nasdem 58 kader, Hanura 28 kader, PKS 60 kader. Sementara Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim memiliki kekuatan sebanyak 208 jaringan anggota legislatif se – Provinsi Lampung. Golkar 84 kader, PKB 52 kader, PAN 72 kader. Seluruh potensi jaringan anggota parlemen tadi, tersebar di 15 kabupaten/kota dan di tingkat provinsi.

Bila faktor kemenangan pada Pilgub ditentukan semata-mata oleh jumlah kekuatan jaringan anggota legislatif, maka pasangan Arinal – Chusnunia terlihat unggul. Namun, untuk memanen hasil dari gerakan jaringan partai (kita sebut demikian) terlalu banyak aspek yang menentukan. Antara lain manajemen pembinaan dan  kepemimpinan di internal partai. Selain partai terbebas dari konflik internal.

Masyarakat pemilih yang jumlahnya 6 jutaan, sekitar 70 persen memiliki akses informasi dan pengetahuan tentang dunia politik yang cukup baik. Misalnya di Bandarlampung, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, Tanggamus, Way Kanan, Lampung Barat, Pesawaran, Pringsewu, Metro, dan Tulangbawang. Pemilih sudah cukup memiliki informasi untuk menjatuhkan pilihan kepada pasangan yang mana. Artinya apa? Kekuatan ketokohan pasangan kandidat dan citra partai politik pengusung, bisa mempengaruhi pertimbangan dalam menjatuhkan pilihan.

Selain kekuatan  jaringan infantri partai, kehadiran kekuatan jaringan infantri relawan tak bisa dihindari. Relawan memiliki peran cukup signifikan untuk mendistribusikan dan menambah sebaran, baik berupa informasi atau alat peraga tentang pasangan kandidat.

Pada wilayah-wilayah tertentu, kekuatan serangan udara, cukup berperan. Hanya soal teknik menyebarkan dan tema-tema yang disampaikan perlu lebih terukur dan terpilih. Utamanya terkait dengan fakta, bukan hoax.

Merupakan sebuah kebohongan besar, untuk menggerakkan jaringan infantri dan serangan udara, bila tak mengeluarkan biaya. Pada kontestasi semacam Pilkada, Pileg, termasuk Pilpres, kesiapan modal kerja kandidat berpengaruh sangat besar. Di era Now, hampir tak ada yang tak mengeluarkan biaya. Walau demikian, faktor fanatisme dan primordialisme masih cukup signifikan berperan.

Merujuk pada peta kekuatan jaringan partai politik dan penguasaan wilayah, kompetisi sengit dalam peraihan suara akan terjadi, misalnya: Di Bandarlampung. Ketatnya persaingan di wilayah ini, tampaknya tetap akan menghantarkan pasangan Herman – Sutono meraih suara terbanyak. Herman adalah walikota periode kedua. Di Lampung Selatan juga demikian. Kompetisi Ridho – Bachtiar, Arinal – Chusnunia, Mustafa – Jajuli, dan Herman – Sutono diduga berlangsung ketat. Bila jaringan relawan dan faktor adanya konflik partai berperan, ditengarai pasangan Ridho – Bachtiar akan unggul.

DI Lampung Tengah akan terjadi hal yang sama. Empat pasangan kandidat akan memainkan berbagai strategi, demi meraih suara terbanyak.  Tampaknya, Mustafa – Jajuli akan unggul disini. Faktor jabatan Mustafa sebagai Bupat cukup berpengaruh.

Hal serupa terjadi di Lampung Timur. Empat pasang kandidat memiliki simpatisan yang berimbang. Posisi Chusnunia sebagai Bupati di wilayah ini berperan cukup signifikan. Bila faktor jaringan relawan dan adanya konflik internal di partai politik terus berkecambah, pasangan Arinal – Chusnunia akan cukup banyak mengeluarkan energi untuk meraih kemenangan.

Lantas siapa yang akan menduduki kursi Gubernur Lampung Periode 2019 – 2024? Tentu saja pasangan kandidat yang aman adalah peraih rata-rata sebesar 33 persen suara di 15 kabupaten/kota pada pencoblosan 27 Juni mendatang.

Bagaimana caranya? Tentu Tim Pemangan para kandidat sudah memiliki kiat Juklak dan Juknisnya. Tak perlu diragukan. Seluruh potensi akan dikerahkan dan maksimal. Namun, hal yang cukup penting disiapkan, bukan hanya kiat meraih suara, faktor mengamankan suara, terlalu penting untuk diutamakan.

Yang jelas, jika tak ada aturan hukum yang berubah, bila pada Pilgub 27 Juni 2018, Muhammad Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, tak bisa melanjutkan pada periode ke dua,  keduanya akan tetap menuntaskan program pembangunan Provinsi Lampung hingga tahun 2019. Begitu pula Herman HN, bila kursi gubernur tak berhasil diraih, Herman tetap akan memenuhi janji-janjinya kepada warga Bandarlampung hingga tahun 2021.

Hal serupa, bila terjadi pada Mustafa. Bupati Lampung Tengah ini tak akan meninggalkan warganya , tetap menjabat hingga tahun 2021. Pun demikian Chusnunia Chalim, akan kembali dan tetap melayani warga Lampung Timur hingga tahun 2021. Menjadi kontestan dalam Pilgub 2018, tak diniatkan untuk meninggalkan tanggungjawab mereka di wilayah kerja masing-masing. Mereka ingin lebih luas mengabdikan diri dan berbuat untuk seluruh rakyat di Provinsi Lampung.

Bagi Arinal Djunaidi, bila gagal, Partai Golkar akan menjadi tempat ketulusannya mengabdi. Sementara Sutono, tentu akan menghabiskan masa pensiun agar lebih dekat bersama keluarga dan para petani.