GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
05/2/2018 22:08:37
3214

Episode 48: Mbak Pur, Radin Jambat Cemburu

Harianlampung.com - Radin Jambat merasa cemburu melihat betapa kesengsemnya Mbak Pur terhadap  Juned. Seolah Juned merupakan satu-satunya pria dimuka bumi yang perlu disangga agar mendapat tempat terhormat. Padahal,Radin Jambat lebih dulu dekat, ketimbang Juned. Selain itu, masyarakat mengetahui secara persis, Juned tak layak mendapatkan tempat itu. Serius nih?

Dul Gedeber: Kog begitu?

Radin Jambat: Bagaimana tidak lucu, Mbak Pur kan tahu remah-remah kemunafikan Juned sudah begitu banyak.

Dul Gedeber: Kau cemburu yo?

Radin Jambat: Idak lah. Masak aku cemburu. Kau kan tahu, ketika diberi posisi sebagai ketua partai para pembalap, Go-Kart, Juned kan seikhlas-ikhlasnya hanya mau membesarkan partai. Nyatanya? Hanya prilaku kesombongan dan karakter otoritarian yang dikembangkan. Hasut kiri, hasut kanan. Pecat kiri, pecat kanan.

Dul Gederber: Itu kan menurut kau. Buktinyo wong-wong itu jalan terus.

Radin Jambat: Wong-wong itu kan jugo paham, kateg ado apo-apo. Simak saja perjalannya. Awalnya Mbak Pur mematok Juned jadi kandidat wakil gubernurnya. Belum kering padi di jemur, lah bebelok. Juned digadang jadi calon gubernur.

Dul Gedeber: Itu kan biaso bae. Ngeles-ngeles cak itu.

Radin Jambat: Ya, itu sebuah cermin yang merefleksikan keinginan mendapatkan kekuasaan tak terkendali. Munafik tentu pembohong? Pastinya.

Kesaksian publik menjelaskan bahwa seluruh daya dan tenaga dilimpahkan Mbak Pur, demi menghantarkan Juned pada tujuannya. Selama sosialisasi, media dibungkam. Hampir tak ada media yang mewartakan kegiatan kandidat lainnya. Kalaupun ada beritanya, hanya menjelek-jelekkan kandidat lainnya. Pokoknya Juned paling bagus, tanpa cela.

Padahal banyak kegiatan tiga kandidat lainnya, lebih berarti dan bermakna bagi pencerdasan masyarakat, bila dibandingkan dengan acara dangdut seronok yang digelar Juned. Lebih jauh dari itu, kasus-kasus tanah rakyat yang dikooptasi Pabrik Permen berpuluh tahun, informasinya dibuang ketong sampah. Ini tak aneh, karena Juned disokong penuh Mbak Pur yang juga sebagai pemilik Pabrik Permen.

Musim berganti, suasana berubah. Belenggu Mbak Pur terhadap media, pun perlahan berubah. Kini Juned mengerahkan pasukan relawan. Lebih banyak bergerak dalam senyap. Menjauhi liputan media. Juned berjibaku untuk menguasai suara pemilih. Dilakukan dalam struktur secara berjenjang. Mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota. Relawan digalang dan ditebar. Miliaran dana digelontorkan. Baik untuk angpao ataupun gaji. Tentu tak ketinggalan, tebaran berbagai varian sembako yang ditempeli foto Juned dan Nyonya Centil, turut diselipkan. Ingat amplop, Ingat Juned. Ingat Susu, Ingat Nonya Centil. Begitu tagline yang akan dibenamkan kepada para pemilih hingga tiba dibilik-bilik suara.

Sementara kalangan penyampai berita yang semula mentuhankan Mbak Pur dan Juned, kini berbalik mencari mangsa baru. Bak burung pemakan bangkai,mereka mengintip sembari menjilat kandidat-kandidat yang mereka nistakan sebelumnya. Sebuah era Now, dimana kehormatan campak karena guyuran uang Mbak Pur.

Dul Gedeber: Kami tau, kasat mata terlihat karakter dan prilaku Juned bersama pasangannya, Nyonya Centil. Itu bukti bahwa keduanya merupakan sosok bertipe pagi sore. Pagi Kedelai, sore Tempe. Tak ada yang bisa dipegang. Bila ada yang menghitung dari 10 omongan keduanya, 9 adalah kebohongan. Mengerikan bukan? Jadi nanti tak perlu terkejut, terkait kebohongan.

Radin Jambat: Celoteh kau ini membuat aku ingat ungkapan: Fool Me Once, Shame On You, Fool Me Twice, Shame On Me, atau secara harafiah: Bila saya berhasil ditipu sekali maka itu salah kamu, namun bila saya ditipu dua kali oleh kamu, maka itu salah saya.

Dul Gedeber: Cacammmm.. Aku balik dulu. Hujan, jemuran belum diangkat. Pembantu ku lagi piknik ke Belando.