GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
12/2/2018 01:45:25
3162

Episode 50: Ketika Mbak Pur Kendur, Ratu Menyusup

Harianlampung.com - Akhirnya Mbak Pur memahami bahwa upaya kerasnya mendorong Juned untuk menjadi gubernur menjadi sebuah misi yang penuh tantangan. Bukan hanya dari lawan-lawan politik di kalangan internal partai, juga dari komunitas dalam Pabrik Permen. Sementara sisi eksternal, datang dari aktifis penggiat demokrasi serta tokoh-tokoh berpengaruh yang ada di wilayah kawasan Pabrik Permen.

Namun Mbak Pur dan Guntur tak menyerah. Sudah menjadi ciri khas mereka. Ciri para penjajah. Bagi mereka, kalaupun Juned Kolojengking tak jadi gubernur, perlu ada yang menjadi tumbal politik atas ketidaksuksesan itu. Sebuah pemikiran yang muncul, ketika kalkulator bergerak ke belakang. Sudah terlalu panjang nol dibelakang koma yang digelontorkan hingga Juned masuk dalam arena kontestasi.

Mbak Pur kini memainkan jurus lain. Mengumpan dan membebaskan Juned berkelana untuk menggapai syahwatnya. Mau kah dia mengorbankan harta benda miliknya?

Inilah segmen cerita tampilnya Rita Mirasa. Melalui teman karibnya, akhirnya Juned menemukan Rita Mirasa. Dana yang dikucurkan Mbak Pur untuk jaringan kader partai pendukung dan pengusung, terus dialirkan. Logisitik pada jaring-jaring peraihan suara, mulai dari tingkat kecamatan hingga desa tetap diberikan. Pos-pos pengeluaran lain, jadi urusan Juned yang mengumpulkan dana dari bandar-bandar lainnya. Sebut saja dari pabrik emas di kawasan Tangkimus.

“Anda harus meyakini kampanye ini dengan sepenuh hati. Seperti saya. Bila tidak, tentu takkan berhasil,” ujar Juned. “Betul sekali,” Ratu Mirasa menyahut cepat pernyataan Juned. “Kerjasama ini perlu dinikmati.” Hening. “Bisakah saya bertanya sesuatu?” “Bisa.” “Bintang Anda?” “Libra.. Setelah Juned pergi, Ratu segera menuju ke ruang kerja Mat Raji. "Saya suka gayanya dia” “Dia  perhatian. Pantas jadi gubernur.”

Mat Raji menatap Ratu sembari mengerutkan kening. “Kerja ini tak segampang lu bayangin.” Ratu membalas tatapannya dengan heran. “Memang kenapa?” Mat Raji berdiri. “"Ada sesuatu yang buat gua bingung. Lu sempat melihat Juned di banyak billboard dan TV?” “Tentu”. “Sekarang sudah berkurang.” “Gua nggak ngerti. Memang kenapa?” “Tak jelas. Belakangan banyak kabar janggal. Mbak Pur yang sejak awal membiayai kampanye Juned mengendur.” “Saat kampanye sedang gencar-gencarnya, kog mengendur? Nggak masuk akal, Mat.” “Itu dia. Mungkinkah membagi telur?” “Ya begitu kabarnya. Tak mau ambil resiko.”

“Ada apa dia mendatangi kita?” “Dia sudah kebelet jadi gubernur. Kan terlihat sekali syahwatnya. Dia merasa hebat dan bisa mengubah situasi. Dia ingin kita yang menyusun strategi kampanye, tapi dengan biaya pas-pasan. Dia ambil untung didepan. Yang bisa kita lakukan, membuat kiat meng-agitasi pemilih. Mengatur arus dis-informasi, memberi uang pemilih, hal-hal seperti itulah” Ia menggeleng. “Kandidat lain, juga petahana, Solbari dalam dia, tetap stabil mengeluarkan biaya kampanye. Ini yang kian membuat posisi Juned dalam jajak pendapat turun terus.”

Matahari menuntaskan tugasnya. Bulan muncul, tanda berganti malam. Ratu Mirasa bercengkrama dengan buku harian baru…. Pagi hari aku jumpa dengan pria mengikrarkan janji menikahiku. Masa kanak-kanak Ratu dilaluinya dengan ceria. Ayahnya guru dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. Ayahnya pria tampan. Sangat peduli dengan keluarga. Diwaktu libur, sudah jadi kebiasaan menghabiskan waktu bersama. Ratu kebanggaan ayahnya.  Ayahnya tak pernah bosan memuji kecantikannya.

Dua tahun yang lalu, kebahagian Ratu mendadak hancur. Ibunya menghampiri Ratu dengan berlinangan air mata. “Ratu……ayahmu pergi.” Sejak itu, Ratu menemani sang ibu yang berubah prilaku. Gairah hidupnya tak ada. Ratu tak berdaya melihat ibunya dan akhirnya meninggal. “Ibuku meninggal karena patah hati.” Lantas Ratu bertekad, takkan ada pria yang bisa berprilaku seperti ayahnya terhadap dirinya.

Ratu pindah, mengontrak rumah. Tak lama, Ratu lulus dari Universitas dengan predikat cum laude. Sebelumnya, Ratu menjuarai kontes ratu kecantikan. Tiga kali Ratu Mirasa menjalin hubungan asmara. Pertama dan kedua dengan sesama mahasiswa yang merupakan bintang tim sepakbola, kemudian dengan dosennya. Semuanya tidak bertahan. Ratu jengah. Kekasihnya tak bisa mengimbangi tingkat kecerdasannya.

Selesai kuliah, Ratu melamar pekerjaan di perusahaan konsultan Public Relation J & J. Perusahaan yang berkantor di Jalan Raya Manggis. Setelah tiga tahun bekerja, Ratu menduduki posisi Excecutive Copywriter Director. Kini Juned Kolojengking menjadi kliennya.