GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
14/2/2018 00:15:40
4483

Episode 51: Jajak Pendapat Ambles, Lantas..

Harianlampung.com - Selama bekerja di kantor Konsultan Public Relation J & J dan menangani klien-klien kandidat gubernur, bupati, bahkan camat, Juned Kolojengking merupakan klien pertama yang memiliki tantangan khusus. Mat Raji  mengusulkan agar Ratu tidak menerima Juned sebagai kliennya. Mengapa?

Sebagai atasan, Mat Raji punya alasan yang cukup untuk melepas Juned. Kenyataannya, Juned tidak sanggup membayar billing yang lazim. Juned mengeluh tak memiliki dana sebesar itu. Padahal bila Mat Raji mengetahui, sebenarnya itu merupakan prilaku baku kliennya. Merajuk, meminta dikasihani, merupakan sifat Juned. Medit bin Kikir. Namun Ratu meyakinkan atasannya agar mempertahankan Juned. "Anggap saja gratisan." Mat Raji  mengamati. "Terserah?"

Ratu dan Juned mengambil tempat di pojok taman. Di lantai lima, sisi samping hotel bintang lima berlian di kawasan Senayan. Dinginnya udara musim penghujan, begitu terasa. Hembusan angin sepoi-sepoi, datang dari arah lapangan Golf. “Saya benci politik,” kata Juned. Ratu Mirasa menatap dengan heran. “Lho, ada apa kamu..” “Saya ingin buat perubahan, Ratu. Dunia politik sekarang sudah diambil alih para pelobi dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka membantu orang-orang yang keliru meraih kekuasaan. Lantas mereka menggunakan orang-orang itu sebagai boneka.” Suara Juned berapi-api. “Gubernur dan konco-konconya sekarang menjadi kumpulan tertutup. Mereka menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyat. Ini tak benar, dan saya akan membenahinya.”

Setiap ungkapan yang meluncur dari mulut Juned, disimak Ratu Mirasa. Dia pasti bisa. Pria ini mempesona luar biasa. Belum pernah Ratu merasakan perasaan seperti saat ini kepada pria. Tapi, Ratu tak bisa menebak seperti apa perasaan Juned Kolojengking terhadap dirinya. Brengsek.

Setiap beberapa menit, ada saja orang-orang yang berlalu lalang, dan menghampiri Juned hanya untuk berjabat tangan. Yang perempuan terlihat jelas memicingkan matanya kepada Ratu. Wah, jangan-jangan mereka sudah pernah berkencan dengan Juned, bisik Ratu dalam hati. Ah.. Peduli amat.

Sebenarnya, Ratu sempat mendengar desas-desus bahwa hubungan Juned  dengan Mbak Pur bak air laut, pasang surut. Apa sebenarnya yang terjadi? Ah..bukan urusan gue.

Banyak orang berkomentar dan sulit untuk disangkal, bahwa gerakan sosialisasi kampanye Juned Kolojengking dilaksanakan secara buruk. Mengundang penyanyi dangdut seronok, hanya untuk memperkenalkan diri. Pasang baliho wajah, tak sesuai dengan kondisi terkini. Bagi-bagi susu ditangkap masyarakat. Iklan TV, radio, maupun koran, tak memiliki target pemilih.

Ratu sedikit melakukan sentuhan, mengatur jalan-jalan Juned menuju pasar, kumpulan ibu-ibu, komunitas pengusaha, dan lusinan aktifitas sosial lainnya. Walau Ratu menyadari kegiatan itu tidak begitu berarti. "Lu udah liat hasil jajak pendapat terakhir?" Mat Raji bertanya. "Tampaknya jagoanmu kian ambles." Belum tentu, pikir Ratu.

Keduanya kian akrab. "Kian sulit naik ya?" Juned bertanya dengan nada pasrah. "Waktu masih panjang," balas Ratu. "Rakyat sudah mulai kenal..." Juned menggeleng. "Saya lihat hasil jajak pendapat. Saya menghargai yang Anda lakukan. Luar biasa." Ratu menatap Juned dalam diam. Pria dengan kejantanan yang membahagiakan pernah kujumpai. Rasanya Ratu ingin memeluk Juned lantas menghiburnya? Ah.. Ngaco?.

Ketika tiba saat keduanya pulang. Setelah Ratu membayar cemilan, keduanya melangkah menuju lift, turun menuju lobby. Tanpa sengaja, disepanjang koridor, sepasang suami istri berpapasan. "Juned. Apa kabar?" Sang suami menyapa. Juned menggamit sodoran tangan sang pria. "Apa kabar Radin Jambat. Kenalkan, ini Ratu." "Hallo, Ratu." Radin Jambat memperkenalkan istrinya. "Ini istriku, Harum." Radin Jambat kembali kepada Juned. "Gua bener-bener nyesel peristiwa itu. Sebenarnya gua nggak mau, tapi nggak ada pilihan.” "Gua tahu." "Nggak ada yang bisa dilakukan sih. " "Sudahlah, nggak jadi soal." "Semoga sukses."

Dalam perjalanan pulang, Ratu bertanya, "Ada apa sebenarnya?" Juned hendak menjawab, tapi berubah pikiran. "Tak ada apa-apa." Ratu Mirasa tinggal di apartemen satu kamar yang rapi di kawasan Alam Permai. Ketika mendekati apartemen, Juned berkata ragu, "Ratu, aku tahu kantormu tak mendapat keuntungan dari kampanyeku. Namun, terus terang aja, menurut ku, kau hanya membuang-buang waktu. Mungkin lebih baik kalau aku mundur saja." "Jangan," sergah Ratu Mirasa (lantas kaget sendiri mendengar pernyataannya yang tegas). "Kamu tak boleh mundur. Kita cari jalan agar kau berhasil." Juned menoleh. "Kau benar-benar peduli?" Apakah pertanyaan ini punya arti lain? "Ya, aku benar-benar peduli." Mereka tiba di apartemen, dan Ratu Mirasa menarik napas dalam-dalam. "Mau masuk sebentar?" Juned memperhatikan wajah Ratu. "Ya." Sesudah itu, Ratu Mirasa tidak tahu siapa yang mulai lebih dulu. Keduanya dalam suasana yang penuh keajaiban.