GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
24/2/2018 05:48:20
4304

Episode 52: Ratu Sajikan Lima Skenario Untuk Juned

Harianlampung.com - Matahari menerobos celah Tirai jendela kamar apartemen Ratu Mirasa. Waktu begitu cepat berjalan. Pagi datang tak bisa ditunda. Roti Panggang berselimut Coklat, Jus Jeruk bercampur Madu, Telur Bebek seperempat matang, jadi menu sarapan pagi.

Ratu berkata:  Sabtu pekan depan ada pertemuan para pengusaha. Cukup banyak yang hadir. Aku atur agar kamu tampil disana. Juned Kolojengking menyela, “Saya nggak punya biaya untuk itu.” “Kamu jangan terlalu munafik,” jawab Ratu. “Kita mainkan sesuai rencana.”

Sebelumnya, atas petunjuk Mbak Pur, Strategi kampanye Juned sudah dimantapkan. Lima skenario digerakkan secara berkesinambungan. Semua merujuk atas hasil survey terkini, tingkat elektabilitas Juned yang terus amblas. Juned harus di up-grade dengan beragam cara.

Skenario pertama,selingkuh bersama kandidat lainnya. Saling melempar posisi tawar, sama-sama untung. Sembari menebar beragam isu buat para kandidat agar saling bersakwa-sangka. Tugas ini diemban tim medsos. Juned hanya bertindak sebagai pengarah.

Skenario kedua, agar terhindar dari tuduhan money politik, pintu masuk menggelontorkan dana dilakukan melalui tabir pembinaan saksi-saksi ditingkat desa. Selain untuk menciptakan posisi tawar dengan kandidat lain, juga menjadi bentuk pemantapan suara. Tim Penggalangan calon legislatif jadi ujung tombak. Targetnya 30 orang saksi per TPS. Tahap awal diarahkan untuk kepentingan suara Juned.

Skenario ketiga, memanfaatkan kesempatan pinjaman. Mustajab adalah kandidat terkuat dan sulit dipatahkan. Skenario ini ditangani Juned yang kemudian dikendalikan oleh aktor lapangan, Janer Subakti, boss utusan rakyat di wilayah itu.

Skenario keempat, menjaga dan memelihara suasana konflik antara Hermanus dan Ronald. Tugas ini diemban  pasukan terompet-terompet Badak yang meniupkan isu ketika menyambangi warga. Juga melalui jejaring medsos, situs online, dan jejaring grup-grup WA.

Skenario kelima, meningkatkan kesibukan Juned di mata masyarakat. Langkah ini adalah  cara menyelimuti empat skenario sebelumnya.

Secara seksama, sejak awal November tahun lalu, Ratu mendampingi Juned melakukan pertemuan marathon bersama Janer Subakti dan Robert Akuat. Mereka menyusun strategi bersama kedua utusan rakyat itu. Mengapa yang dijadikan sasaran awal Mustajab? Selain kuat, juga tidak takluk mengikuti kehendak Mbak Pur. Beda dengan kandidat lainya, walau jaim tapi membuka pintu.

Ratu menyajikan berbagai kiat menggarap Mustajab. Setelah di evaluasi, perlu ada tenaga tambahan. Kembali Ratu mendampingi Juned ketika rapat terbatas bersama Abdul Eboni, orang kepercayaan Mustajab yang kebetulan masih saudara Juned.

Peran Abdul Eboni cukup signifikan. Pria muda ini mengatur irama bersama Janer Subakti dan Robert Akuat. Kapan Mustajab harus jumpa dan bicara, kapan saatnya memutuskan. Selain mengabarkan kondisi internal, tentunya.

“Kita masih perlu tambahan tenaga,” ujar Ratu. “Untuk apalagi?” sergah Juned. “Perlu keterlibatan pihak lain agar lebih matang,” timpal Ratu.

Mengambil tempat disalah satu ruangan sejuk, bagian sisi kanan Gedung Mercusuar, Ratu dan Juned menerima Zainuri Asik dan Boby Kemarau, keduanya utusan rakyat juga.

Sembari menikmati Bakmie 69, pembagian tugas pun berhasil dirumuskan.  Janer Subakti  mendelagasikan penuh perundingan kepada Novan September. Sementara Janer menjalankankan tugas meloloskan persetujuan anggaran, walau  upeti menyusul kemudian. Sepenuhnya akan dikomandani Novan bersama pemikirnya Rustanto yang juga utusan rakyat.

Ringkasnya, Novan September, Rustanto, Robert Akuat,  Zainuri Asik mensingkronkan gerakan bersama Abdul Eboni. Sementara Boby Kemarau menghilang. Skenario ini sukses dilaksanakan.

"30 persen penduduk tidak menggunakan hak pilih," Ratu berkata. "Tingkat partisipasinya rendah. Jika ingin keadaan berubah, Anda perlu membuka jalan bagi perubahan. Apakah Anda akan memilih saya atau lawan saya, yang penting jangan sia-siakan hak Anda. Datanglah ke tempat pemungutan suara." Tepuk tangan menggema mendengar orasi Juned.

Ratu Mirasa mengatur jadwal Juned. Mulai dari menghadiri perkumpulan petani hingga berorasi dibanyak tempat. Organisasi perempuan maupun serikat pekerja. Juga acara-acara amal disambangi. Disela-sela itu, pertemuan saling bertukar informasi dengan Sutikno, terjaga secara rapi. Juga melempar tema gencatan senjata antara Mbak Pur dan Ronald, terus diupayakan.

Saat tak kampanye, Ratu mencuri-curi waktu bersama Juned. Berduaan saja. Bila tak lagi berduaan, Juned kerab meninggalkan pesan di telpon Ratu.  “Sayang... di mana kau? Aku rindu, rindu, rindu….” Dunia terasa lebih lebih indah. Seakan mendapat sentuhan keajaiban, dan keajaiban itu adalah Juned Kolojengking.

Pekan pertama di bulan Januari, Ratu Mirasa berkemas untuk berjumpa Juned. Dan tiba-tiba Juned  menelepon. "Sayang, aku menyesal sekali, tapi aku punya kabar buruk. Aku harus menghadiri pertemuan malam ini, dan aku terpaksa membatalkan acara kita. Maukah kau memaafkanku?" Ratu Mirasa tersenyum dan menjawab lembut, "Kau sudah kumaafkan."

Esok hari, Senin, ketika lampu merah menyala, Ratu membeli harian Dongkrak Digest. Tajuk utamanya tertulis besar: Sosok Perempuan Mengapung dI Sungai Ketibung. Teras beritanya berbunyi: “Sore hari mayat perempuan berusia sekitar dua puluh emat tahun ditemukan dalam keadaan tanpa busana di Sungai Ketibung, sekitar lima belas kilometer sebelah timur pusat Kota Lada. Penyebab kematiannya kini masih diselidiki.

Ratu merinding ketika membaca artikel tersebut. Kasihan, dia masih begitu muda Apakah dia punya kekasih? Atau suami? Aku harus bersyukur karena aku masih hidup dan begitu bahagia dan dicintai.

Setelah sepekan berlalu, Dongkrak Digest menurunkan laporan: "Autopsi terhadap wanita muda yang ditemukan tewas di Sungai Ketibung menunjukkan bahwa korban meninggal akibat kelebihan dosis narkoba cair. Korban diidentifikasi sebagai Vero…..pelayan kesehatan..."  Narkoba cair? Ratu teringat malam di apartemennya. Ketika itu Juned  membuang botol itu.