GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
14/4/2018 23:51:13
1968

Undangan Terbuka Untuk Eko Kuswanto

Harianlampung.com - Kamis (12/4) malam menjadi sebuah catatan penting bagi kalangan pers di Provinsi Lampung. Sebagai orang yang hampir separuh umurnya menggeluti media massa, dibuat terkaget-kaget.  Sebuah lembaga riset, Rakata Institute mengeluarkan kesimpulannya terhadap media massa yang layak dijadikan mitra di Bumi Sai Bumi Ruwa Jurai. Hanya ada tujuh media. Artinya apa? Selebihnya tak layak dijadikan mitra.

Diantara tujuh media itu, Harian Lampung Post masuk dalam kategori Rakata Institute tak layak dijadikan mitra.

Pertanyaannya kemudian, sama dengan pertanyaan banyak pihak atas hasil survei lembaga yang dikomandani oleh Eko Kuswanto, doktor biologi tentang Rayap dari Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait elektabilitas kandidat di Pilkada yang ada di Provinsi Lampung.

Bagaimana caranya Rakata Institute menyimpulkan ketidaklayakan Lampung Post sebagai mitra?

Saya tidak ingin terjebak dalam diskursus tentang hasil survey Rakata terkait elektabilitas paslon di Pilgub, Pilbup dan elektabilitas calon anggota DPD, DPR RI, termasuk soal elektabilitas partai politik. Walau banyak pihak yang mempertanyakannya.

Sebagai salah satu orang yang pernah menjadi karyawan hingga memimpin Lampung Post, saya cukup terkejut dan singut. Bahkan merasa tersinggung. Tribun Lampung, Radar Lampung adalah pemain baru di bidang media massa di Lampung. Bahkan, di kedua media itu, ada tangan-tangan yang bekerja, pernah mengenyam rasa bekerja di grup medianya Lampung Post.

Lampung Post, tentu dengan subjektifitas saya, lebih unggul dalam banyak hal, termasuk soal bermitra dengan berbagai pihak. Sudah cukup banyak alumni Lampung Post yang menjadi pemimpin bahkan jadi pemilik di banyak media massa. Bisa jadi bukan hanya saya, juga karyawan Lampung Post yang ada saat ini, perlu mengetahui, adakah resep yang salah diramu mereka, sehingga Rakata Instutute menilai jadi tak layak sebagai mitra kerja.

Saya ingin mendiskusikan ini secara terbuka? Kenapa? Pertama, saya ingin mengetahui lebih jauh metodologi Rakata Institute dalam memutuskan layak tidak layaknya sebuah media massa untuk dijadikan mitra kerja. Kedua, implikasi dari penilaian yang dipublikasikan Rakata terhadap media massa, di luar tujuh media yang dinilai layak tadi, sangat negatif, khususnya bagi Lampung Post. Ini menjadi sebuah kerugian immateriel yang sulit diukur secara finansial. Padahal, sepengetahuan saya, termasuk ketika memimpin Lampung Post, kepercayaan publik merupakan hal yang sangat diprioritaskan dalam menata program kerja.

Ketiga, langsung atau tidak langsung, apa yang dilakukan Rakata Institute telah mem-framing pikiran publik, setidaknya di kalangan pekerja pers, bahwa media tempat mereka bekerja (diluar tujuh media tadi) menjadi tempat yang tak layak dipercaya sebagai mitra. Implikasi ini sudah mulai terasa.

Atas dasar tiga hal diatas,  saya berharap, semoga Eko Kuswanto dan keluarga serta pasukan Rakata Instutue yang sedang berlibur ke Hongkong, usai mempublikasikan tentang kelayakan media di Lampung, tak lama sudah kembali ke Lampung, bisa menyediakan waktu.

Saya mengundang  ahli  “Rayap” dan jajarannya ini secara terbuka untuk hadir berdiskusi tentang kesimpulannya terhadap tujuh media di Lampung yang layak dijadikan mitra kerja.

Soal waktu dan tempat, saya menunggu konfirmasi anda. Tapi saya mengajukan tawaran, tempatnya di lokasi yang sama ketika anda mentasbihkan kelayakan tujuh media itu.

Sembari menunggu kesedian dan jawaban anda, saya menghabiskan kopi dan singkong goreng, menerawang apa yang sedang diperbuat Mbak Pur dan Juned diakhir pekan.



Pengundang adalah bekas karyawan Lampung Post
(Yusuf Yazid)