GAGASAN
03/5/2018 17:02:28
2717

Antara Unjuk Diri Purwanti Dan Pilgub Lampung 2018

Harianlampung.com - SEPERTI yang dilansir media massa ke ruang publik, kehadiran Purwanti Lee, pengusaha Pabrik Gula Sugar Group Companies (SGC) dan Welly Sugiono, pengusaha PT. Great Giant Pineapple (GGP), Senin 30 April 2018, dalam kampanye pasangan calon gubernur/wakil gubernur Lampung Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim (Nunik) menjadi viral.

Saling silang antara yang pro dan kontra mengemuka. Menyedot perhatian, bukan saja dari kalangan akademisi, tapi juga dari kalangan lembaga swadaya masyarakat. Pun membuat kubu Arinal-Nunik bersuara lantang memberi penjelasan. Bahkan menantang” para pihak yang punya pendapat berbeda dalam mengartikan dukungan Purwanti Lee kepada paslon nomor urut 3 tersebut.

Pilkada, baik itu Pilgub ataupun Pilbup yang kini digelar di Provinsi Lampung, adalah ajang Pesta Demokrasi. Artinya apa? Ajang ini menjadi tempat rakyat berpesta dalam menentukan pilihan masa depan mereka. Wajar dan sah saja, bila kemudian seluruh rakyat angkat bicara. Khususnya warga Lampung. Pasalnya, merekalah yang akan menanggung konsekuensi atas pemimpin yang terpilih nantinya.

Tak ada yang salah dengan komentar mereka. Apakah itu berupa dukungan, kritik tajam, pun suara tidak mendukung. Tentu sah-sah saja. Dan ruang publik, melalui media massa dengan segala jenisnya menjadi sarana untuk menyuarakan itu. Tentu kita berharap ruang publik tidak dipenuhi oleh suara-suara yang bersifat hoax.

Kembali soal langgam dan penampakan Purwanti yang membuat heboh ruang publik. Sejak awal, dugaan peran besar Purwanti sudah menjadi pembicaraan di ruang publik. Media cetak menempatkannya menjadi headline, begitu juga media online. Rumor berkembang bukan saja soalnya support-nya pada Arinal sebagai cagub, tapi juga dugaan peran besarnya menjadikan cagub nomor urut 3 ini mengambil alih posisi Ketua DPD I Partai Golkar Lampung dari Alzier Dianis Thabranie, padahal periode kepengurusan masih panjang.

Akumulasi pemikiran publik itu kemudian mendapatkan jawaban. Langgam penampakan secara nyata Purwanti ditambah Welly di kampanye Arinal-Nunik menjadi fakta. Kedua pengusaha ini memang pendukung paslon tersebut.

Posisi ini kemudian melahirkan pendapat beragam. Berbagai dimensi bisa dikaji. Namun bisa dihitung dengan jari, masyarakat atau akademisi yang peduli. Sebagian besar tak lagi antusias menyuarakan pemikiran mereka ke ruang publik. Hanya ngerumpi di ruang-ruang diskusi.

Pesta demokrasi yang menelan biaya miliaran rupiah, dibuat meriah. Kemeriahan dilakukan KPU Lampung. Mulai dari langkah bersosialisasi, hingga debat kandidat yang disiarkan langsung televisi. Itu pun tak luput dari kontroversi. Tak ketinggalan para paslon yang turut menyemarakkan pesta ini. Baik menggunakan duit cukong ataupun duit sendiri.

Namanya juga pesta. Ada pasukan hore-hore, ada pasukan rayap, dan ada tamu yang siap menyantap hidangan, sesuai porsi. Ratusan juta bahkan miliaran rupiah digelontorkan, untuk dijadikan santapan. Mulai dari susu, minyak goreng, hingga uang amplop. Modalnya bisa berasal dari para cukong, ada juga yang dari kantong pribadi para paslon.

Dukungan cukong tentu tidaklah gratis. Bila dianggap gratis, seperti sadaqoh atau infaq, tolak ukurnya sangat sederhana. Tentu masyarakat di sekitar ladang usaha para cukong tak ada lagi yang sengsara, bahkan tersiksa dan teraniaya.

Gelontoran dana dan jaringan para cukong menjadi utang” yang harus dibayar nantinya. Tentu sesuai dengan skenario yang disepakati, baik secara lisan atau di dalam hati. Beragam pola kompensasi telah direncanakan secara baik, bila kekuasaan berhasil diraih.

Adakah yang salah atas dukungan Purwanti dan Welly kepada paslon Arinal-Nunik? Tak ada. Namanya juga alam demokrasi. Namun, juga tak ada yang salah, ketika publik berpendapat, menduga dan mempertanyakan lebih jauh arti dan makna dari dukungan mereka. Apalagi, sebelumnya dukungan itu dipungkiri.

Unjuk diri Purwanti lumrah menjadi perbincangan. Apalagi cukup pengetahuan masyarakat Lampung terkait sepak terjang pengusaha SGC ini. Disamping itu, juga belum ada satu pun pengusaha yang terang-terangan tampil di muka publik dalam arena kampanye paslon cagub Lampung.

Pertanyaannya kemudian, selain menyampaikan pesan dukungan terhadap Arinal-Nunik, apa pesan lain yang ingin disampaikan Purwanti kepada publik atau kepada paslon cagub lainnya? Langkah unjuk diri ini tentu tidak sederhana. Sudah ada hitungan untung ruginya.

Dengan demikian, Pilgub Lampung bukan hanya sebatas pesta demokrasi. Dimensinya bertambah, menjadi pesta kekuasaan (politik dan uang). Menggunakan kekuasaan yang ada di tangan untuk merebut kekuasaan mendatang. Selain jadi ajang pesta permainan”.

Pemain formalnya, tentu saja partai politik pendukung dan pengusung paslon. Disamping relawan-relawan resmi yang ada. Lantas, apakah di luar itu tak ada yang ikut bermain?

Sungguh pongah kalau kita katakan tidak. Faktanya Purwanti dan Welly bergairah turun lapangan di ajang kampanye. Keduanya bukan pengurus dan kader partai, mereka pengusaha tajir. Apalagi tidak tercatat sebagai juru kampanye atau dalam tim kampanye Arinal-Nunik yang tercatat di KPU. Begitu juga oknum-oknum penguasa media dan oknum wartawan yang secara sembunyi-sembunyi memanfaatkan celah remah-remah” dalam pesta permainan”.

Lantas rakyat biasa posisinya dimana? Mereka terkurung dalam arena permainan yang kemudian bisa-bisa dijadikan mainan”. Sebab suara ada di tangan mereka.

Jumlah rakyat yang ada dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) menjadi acuan dalam menentukan strategi kemenangan. Beragam rencana kemenangan dimulai dari sini. Suara rakyat dijadikan sasaran untuk diutak-atik.

Ditengah kondisi kebanyakan rakyat yang sedang mengalami kesusahan menghadapi kehidupan (yang tidak susah dipakai untuk kelebihan), ditambah sikap putus asa mereka terhadap figur pemimpin, maka potensi praktik politik uang menjadi menganga lebar. Dan sumber uang yang diumbar, salah satunya dari pengusaha besar.

Dari sini muncul perdebatan soal pembajakan terhadap pesta rakyat, pesta demokrasi. Suara rakyat akan dibeli. Sebuah situasi kekhawatiran yang nyata, setidaknya dinyatakan di dalam hati, walau ada juga yang terungkap di ruang publik.

Sahabat diskusi saya mengatakan: Tak perlu berkerut kening untuk mencerna sebuah pesan politik. Lambat atau cepat kemunafikan yang dipelihara akan muncul juga. Hanya soal waktu, kapan dagelan konyol yang disembunyikan  para pemain akan menjadi fakta di depan mata. Tak perlu kecerdasan yang lebih untuk mencerna.
(pin)