GAGASAN
Ilustrasi (pin)
07/6/2018 22:02:26
831

Menepuk Opini Pilgub Lampung, Terpercik Ke Muka Sendiri

Harianlampung.com - Pilgub Lampung 2018 menarik disimak karena bermunculan masalah-masalah seputar para calon gubernur maupun wakilnya. Permasalahan-permasalahan tersebut yang kemudian membuat hiruk-pikuk jelang 27 Juni 2018.

Ketika baru ditetapkan sebagai calon gubernur, jagad politik Lampung gegar oleh tertangkap tangannya gratifikasi calon gubernur nomor empat, Mustafa, oleh KPK. Cagub yang elektabilitasnya tinggi ini langsung terbungkam di jeruji lembaga antirusuah itu.

Calon gubernur nomor dua, Walikota Bandarlampung Herman HN, masih terbelit isu reklamasi. Konon, permasalahan tersebut masih berjalan di Kejaksaan Agung.

Cawagub nomor tiga, Bupati Lampung Timur Chusnunia alias Nunik disebut-sebut juga terbelit kasus Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Masalahnya, masih di tangan KPK.

Terakhir, isu murahan terkait Sinta Meliati yang sengaja digoreng untuk menjatuhkan citra cagub nomor urut satu petahana Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo.

Semakin menghitung hari pencoblosan, 27 Juni 2018, suhu politik bertambah panas. Ramai manuver-manuver para "penjilat" dan "kacung-kacung" untuk mencari perhatian bos atau sekadar mengharapkan THR jelang Lebaran.

Lucunya, "bak menepuk air di dulang, terpercik air ke muka sendiri". Dari sekian banyak isu politik yang bergulir menjelang pencoblosan, paling menarik adalah isu Arinal-Nunik yang diduga dibiayai PT. Sugar Group Companies (SGC).

Dugaan ini bukan tanpa alasan, bos besar PT.SGC, Purwanti Lee atau Ny. Lee, berkali-kali turun langsung mengkampanyekan Arinal-Nunik, misalnya di Tulangbawang dan Metro.

Selain itu, latar belakang keuangan Arinal-Nunik yang hanya menggantungkan hidup dari belas kasih negara rasanya tak mungkin mampu membiayai kampanye "ugal-ugalan" bernilai ratusan miliar.

Arinal begitu masif menyosialisasikan diri mulai dari acara wayangan, jalan sehat, kampanye akbar dengan menghadirkan artis ibu kota ternama, sampai pembelian jutaan sarung dan kerudung.

Menurut saya, sekali lagi rasanya ini tidak mungkin, menilik Arinal hanyalah pensiunan Sekda Provinsi Lampung yang bisa diukur berapa jumlah depositonya.

Juga Nunik, "gadis kemarin sore", yang baru jadi bupati seumur jagung, bisa dihitung berapa pundi-pundinya.

Di tengah gemuruhnya kontestasi Pilgub Lampung, tiba-tiba kita sedikit terkesima membaca artikel menarik buah karya politisi Golkar Nizwar Affandi terkait isu-isu strategis di Pilgub Lampung.

Saya sebetulnya tidak tertarik untuk membalas tulisan bung Nizwar Affandi tersebut, tapi ada sisi lain yang menurut saya perlu diperjelas:

1. Terkait pernyataan bung Nizwar Affandi bahwa pihak yang membantu Arinal Nunik pada Pilgub 2018 adalah sama dengan yang membantu Ridho di Pilgub 2014.

Menurut saya ini adalah pernyataan yang sangat menarik, secara tidak langsung Bung Nizwar Affandi melegitimasi bahwa Arinal-Nunik benar adanya dibantu oleh pemodal, kuat dugaan pemodal tersebut adalah PT.SGC.

Apakah pemodal tersebut sama dengan yang mendanai Ridho 2014 itu tidak penting untuk saya. Yang perlu digarisbawahi, masyarakat Lampung sudah cerdas sekarang. Ini dibuktikan dengan selalu adanya penolakan terhadap cagub yang diduga didukung oleh PT.SGC, baik pada 2014 dan 2018.

Selain itu, selalu ada upaya untuk mencerdaskan masyarakat Lampung yang dilakukan oleh kalangan akademisi, bahwa tujuan PT.SGC diduga mendanai pasangan Arinal-Nunik tak lain untuk membajak demokrasi dan yang terpenting adalah untuk mengamankan HGU dan aset-aset PT.SGC yang bermasalah, diduga menyaplok tanah rakyat.

Jika benar adanya bahwa pada 2014 Ridho-Bachtiar diduga dibantu oleh PT.SGC, dan pada Pilgub 2018 diduga SGC mengalihkan dukungannya pada Arinal-Nunik, berarti ada selisih paham antara Ridho-Bachtiar danga PT.SGC.

Melihat sikap Ridho-Bachtiar saat ini yang tegas menentang pembajakan demokrasi yang diduga dilakukan oleh PT.SGC, jelas ini membuktikan bahwa Ridho-Bachtiar tak mau menjadi boneka PT.SGC di pemerintahan.

Tentu saja, sebagai masyarakat Lampung, saya sedikit bangga, ternyata masih ada sosok pemimpin yang memiliki integritas dan harga diri, tak mau menjadi kacung pemodal.

Analisa dangkal saya tersebut sebetulnya tak penting, yang paling penting menurut saya dimanakah posisi Bung Nizwar Affandi saat ini? Mengingat sejarah mencatat Bung Nizwar Affandi adalah karib Ridho Ficardo dan orang yang berperan aktif untuk pemenangan Ridho Ficardo di 2014.

Sekedar mengulas cerita lawas, saya tau persis Bung Nizwar Affandi adalah orang yang menjadi utusan Ridho Ficardo menjumpai Politisi Golkar Senior untuk melobi pelaksanaan Pilgub Lampung agar dapat dilaksanakan berbarengan dengan Pileg 2014.

Beberapa kali saya menjumpai Bung Nizwar Affandi di Kediaman Politisi Senior Golkar tersebut yang beralamat di Jl. Arif Rahman Hakim, atau yang dikenal dengan sebutan ARH.

Mengingat sikap Bung Nizwar Affandi yang begitu terbuka menyerang Ridho Ficardo melalui argumen-argumennya dalam tulisan, jelas Bung Nizwar Affandi tak berada dalam gerbong Ridho Ficardo saat ini.

Lantas, apa penyebabnya dua karib ini tak sejalan lagi? Konon katanya saat Pileg 2014, Bung Nizwar Affandi mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI, malangnya suaranya tak mencukupi. Karena suara tak cukup, diduga keras Bung Nizwar Affandi memutar otak mencari celah.

Salah satunya Nizwar Affandi diduga memohon bantuan Ridho Ficardo yang saat itu sebagai gubernur terpilih dan menjabat sebagai Ketua Demokrat Lampung untuk melengserkan anggota DPR RI dari Partai Demokrat Marwan Cik Asan.

Sayangnya Ridho Ficardo tak mengindahkan keinginan Bung Nizwar Affandi tersebut, sebab Ridho Ficardo menjaga politik santun dan bersih di internal Demokrat. Merasa keinginanya tak digubris Ridho Ficardo, terciptalah benih-benih sengketa di antara mereka.

Dimanakah Posisi Bung Nizwar Affandi saat ini? Berada di Gerbong Arinal-Nunik kah dengan full service dari SGC? Bersama Herman HN kah? Atau berdiri tegak bersama rakyat Lampung mengawal agar Pilgub ini berjalan lancar dan kondusif.

2. Terkait isu Sinta Meliati yang pernah bergulir hingga Gedung Senayan. Sebetulnya, menurut saya, ini adalah isu murahan yang sangat memalukan. Isu pribadi yang sengaja digoreng untuk menjatuhkan Ridho Ficardo.

Siapakah Sinta Meliyati? Apakah dia secerdas itu hingga isu ini bergulir di Komisi III DPRRI? Jelas tidak. Ada politisi-politis kampungan yang sengaja mengendalikan saudari Sinta Meliyati, tujuannya untuk memeras dan menjatuhkan kreadibilitas Ridho Ficardo.

Yang lebih menyedihkan, "kebodohan" oknum di Komisi III DPR RI dan sekutunya, mau-maunya mengurusi masalah Sinta Meliyati yang begitu sepele. Masih banyak persoalan-persoalan yang menyangkut hajat orang banyak di Indonesia ini. Dasar otak yang kehilangan kecerdasan dan kreatifitas demi rupiah.

Sikap diam Ridho Ficardo menghadapi isu tak sedap ini sudah sangat tepat. Menurut saya isu murahan ini sedikitpun tak akan berpengaruh pada elektabilitas beliau, sebab masyarakat Lampung sudah pintar. Pandai membedakan mana isu "gorengan" dan mana fakta kebenaran.

Sebetulnya fitnah kejam yang menimpa orang-orang sukses sudah dimulai sejak dulu. Sudah dimulai sejak jaman Nabi Yusuf AS, dengan kisah klasik "Yusuf dan Zullaikha".

Selain itu, sebagai seorang muslim, saya hanya ingin mengingatkan kita semua, Bung Nizwar Affandi, menuduh dan menggibah seorang muslim berbuat zinah adalah dosa yang sangat keji, termasuk merusak kehormatan muslim dan muslimah adalah menuduhnya berbuat zina tanpa bukti.

Bukti yang dimaksud adalah mendatangkan empat saksi laki-laki yang melihat perzinaan tersebut secara langsung. Tuduhan tanpa bukti ini disebut qadzf.

Orang yang melayangkan tuduhan keji itu terlaknat di dunia dan di akhirat serta akan mendapatkan siksa yang pedih.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berbuat zina) kepada wanita yang baik-baik, yang lengah (tidak melakukan perzinaan-pen), lagi beriman, mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allâh akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allâh-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).[An-Nûr/24: 23-25].
(pin)