INVESTASI
Ilustrasi (pin/dok)
19/10/2017 12:09:26
198

Memahami Fluktuasi Harga Cabai

Harianlampung.com - Cabai merupakan komoditas pertanian yang unik. Walau di konsumsi dalam jumlah kecil, pergolakan harganya mempunyai peran esensial bagi ekonomi masyarakat. Cabai, bahkan punya peran signifikan pada ekonomi makro. Bank Indonesia menyatakan, fluktuasi harga cabai menjadi salah satu sumber utama permasalahan inflasi tahun 2018 yang mencapai 16,1 persen.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Tjahya Widayanti mengatakan harga cabai dalam 5 tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan. Lonjakan harga, biasanya akan terjadi jelang akhir tahun.

Fluktuasi harga cabai ini terjadi karena ketidaksinkronan dari pola tanam. Sehingga pada waktu tertentu, terjadi kelangkaan pasokan. Ketika itu terjadi, harga pun melambung tinggi.

“Oleh karena itu, kami berharap cabai bisa disimpan di mesin controlled atmosphere storage (CAS). Dengan begitu, harga cabai stabil karena pasokan dapat diatur dan cabai bisa disimpan pada saat panen," katanya kepada politikindonesia.com pada Simposium Nasional dan Bedah Buku Cabai, di Jakarta, Rabu (18/10).

Disebutkan, berdasarkan data yang dikumpulkan pihaknya dari seluruh dinas provinsi di Indonesia, rata-rata harga cabai merah besar secara nasional sekitar Rp42.950 per kilogram (kg) dan cabai rawit merah dikisaran Rp33.480 per kg. Sedangkan, cabai merah keriting, mengalami kenaikan harga sekitar 6 persen dibandingkan dengan bulan yang lalu.

"Ada sekitar 82 kota yang diambil sebagai titik pantau dari harga dan stok cabai. Dari jumlah itu, ada sekitar 165 pasar yang kami pantau. Kami mendapatkan data harga ditingkat ritel itu setiap hari. Harga tersebut relatif stabil atau mengalami penurunan 8 sampai 16 persen," ulasnya.

Sementara itu, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan, fluktuasi produksi cabai masih menjadi kendala dalam sektor pertanian. Ini berdampak pada gejolak harga. Persoalan ini sebenarnya bisa diatasi jika mampu menerapkan teknologi pasca panen yang tepat.

“Teknologi pasca panen yang dibutuhkan, misalnya berupa pendinginan dan pengeringan. Karena hanya alat tersebut yang mampu menjaga kualitas produk. Dengan teknologi tersebut dapat menghindari terjadinya food loses dan food waste. Sehingga saat pasca panen cabai diharapkan hasilnya bisa disimpan untuk meningkatkan harga cabai," terangnya.

Dijelaskan, dengan teknologi pasca panen, maka hasil panen cabai akan memberi nilai tambah dan nilai daya simpan. Dengan begitu, fluktuasi permintaan dan penawaran akan teratasi.

"Fluktuasi cabai disebabkan beberapa faktor, mulai dari musim, hama tanaman, modal hingga sumberdaya manusia. Selain itu, cabai termasuk komoditi yang cepat rusak dan membusuk. Sehingga perlu penanganan pasca panen yang tepat. Sementara itu, kita belum ada perkebunan besar yang berskala besar yang mampu menjamin ketersediaan stok cabai nasional," katanya.

Dipaparkan, pajak pertambahan nilai (PPN) juga dianggap menjadi salah satu penyebab gejolak harga cabai. PPN membuat penerapan tehnologi pasca panen terkendala. Adanya PPN itu membuat sulitnya keberadaan pascapanen kecil dan dekat dengan pertanian cabai di daerah.  

"Padahal, pascapanen ini menjadi tahap penting, mengingat komoditas cabai sangat dipengaruhi musim dan penyakit. Namun karena teknologi petani Indonesia yang parah. Sehingga seringkali terjadi, pasokan cabai segar kadang tidak sesuai dengan permintaan masyarakat," tutupnya. 
(pin)