INVESTASI
Diskusi Kopi Meja Bundar III (pin)
13/4/2018 08:53:40
850

Gaeki dan WCS Gelar Diskusi Deforestasi Hutan

Harianlampung.com - Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) bersama Wildlife Conservation Society (WCS) melaksanakan kegiatan diskusi bertajuk Meja Bundar 3 Kopi Berkelanjutan Di Bukit Barisan Selatan, untuk membangun sebuah komitmen bersama mengatasi deforestasi, risiko rantai pasok serta mendukung mata pencaharian petani, Kamis (12/4) siang, di Hotel Emersia Lampung.

Disebutkan produksi kopi ilegal di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan salah satu penyebab utama, hilangnya tutupan hutan dan berpotensi mengancam ekosistem yang penting. Selain itu, aktivitas petani di TNBBS juga dianggap mengancam rumah terakhir bagi populasi Harimau, Gajah dan Badak Sumatera yang hampir punah di Indonesia.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2017 menyebutkan, telah terjadi penebangan hutan (Deforestasi) dengan luas mencapai 479 ribu hektar, hal ini tentunya menjadi isu yang sensitive mengingat Hutan Indonesia adalah “Paru-Paru Dunia”.

Selain beresiko terhadap rantai pasokan dan perusahaan-perusahaan yang membeli kopi di wilayah ini, penanaman kopi secara illegal tersebut pada prakteknya malah menghasilkan kopi robusta dengan kualitas rendah dikarenakan keterbatasan input produksi, keuangan dan pasar. Dengan kata lain, pendapatan petani yang rendah dan tak menentu tersebut, dianggap tidak sebanding dengan rusaknya ekosistem akibat deforestasi yang terjadi.

Diskusi yang dihadiri oleh para pengusaha, NGO, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Lampung Dessy Desmaniar Romas, Bupati Lampung Barat  Parosil Mabsus, Bupati Oku Selatan Popo Ali, Kepala Balai Besar TNBBS Agus Wahyudiono, menggagas kesepakatan untuk memberikan “Pernyataan Niat Bersama” untuk menyatukan para pengampu kepentingan.

Kolaborasi seluruh pihak yang berkepentingan di lanskap ini, diharapkan dapat memberikan kesempatan unik untuk mengatasi deforestasi akibat dari budidaya kopi di TNBBS, sekaligus mendukung peningkatan mata pencaharian petani dan pengembangan sektor robusta secara berkelanjutan.

Kepala Balai Besar TNBBS Agus Wahyudiono, mengatakan bahwa diperlukan perhatian khusus agar TNBBS sebagai warisan dunia dapat terjaga keberadaannya, akan tetapi tetap dapat memberikan manfaat bagi para masyarakat sehingga kesejahteraan dapat meningkat.

“Diperlukan upaya untuk mengelola lahan baru diluar TNBBS, dengan posisi masyarakat bukan sebatas objek semata, artinya tidak hanya diberikan bibit dan teknologi saja, tetapi juga pemahaman pentingnya menjaga hutan dengan flora, fauna dan rantai makanannya, sehingga masyarakat dapat sejahtera sekaligus kelestarian hutan tetap terjaga.” Ujar Agus.

Meja Bundar lll: Kopi Berkelanjutan Di Bukit Barisan Selatan

Sementara, Bupati OKU Selatan – Sumsel Popo Ali, mengatakan bahwa secara budaya masih ada kebiasaan masyarakat yang masih menganggap bahwa tanah yang ada merupakan tanah bebas dan boleh untuk ditanami, tidak mengerti apakah itu kawasan hutan yang boleh digarap atau tidak. Padahal ada banyak lahan tidur lain yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan para petani.

Sedangkan Kepala Disbunnak Lampung, Ir. Dessy Desmaniar Romas, dalam kesempatan berbicaranya mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung telah melakukan beberapa program agar masyarakat tidak terlalu merusak hutan, diantaranya dengan memberikan bantuan bibit ternak sapi. Dengan memberikan bibit dan fokus kepada peternakan, kegiatan merusak hutan dapat berkurang.

“Menjadi kebanggaan jika program bantuan bibit dan ternak kepada masyarakat didukung oleh Bupati yang pro rakyat. Artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan bersama untuk memajukan perkebunan kopi robusta Lampung yang telah mendunia dan bersertifikasi ini, tapi disatu sisi kelestarian TNBBS tetap terjaga.” Ujar Dessy.

Lebih lanjut, Dessy mengatakan diperlukan suatu strategi yang komprensif agar dapat mengembangkan sektor robusta yang berkelanjutan, sehingga program Integrasi antara perkebunan dan peternakan yang telah berjalan dapat berkembang
(her)