INVESTASI
Ilustrasi (pin/dok)
15/8/2018 14:46:22
825

Neraca Perdagangan Juli Defisit US$2,03 Miliar

Harianlampung.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2018 mengalami defisit hingga US$2,03 miliar. Sebelumnya, perbandingan antara nilai ekspor dan nilai impor mengalami surplus sebesar US$1,74 miliar pada Juni 2018.

“Kami berharap akan ada perbaikan segera, sehingga apa yang terjadi pada 2017, kita mencapai surplus itu dapat terjadi (lagi pada 2018)," terang Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam paparan Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2018 di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/08).

Desifit terjadi karena total impor yang membengkak melampaui nilai ekspor.  Tercatat, ekspor Juli di angka US$16,24 miliar dan impornya di angka US$18,27 miliar. “Jadi tahun ini, Januari defisit, Februari defisit, Maret surplus, April defisit, Mei defisit, Juni surplus dan Juli kembali defisit," kata Suhariyanto.

BPS mencatat, posisi ekspor Indonesia pada Juli 2018 sebesar US$16,24 miliar atau naik 25,19 persen dibanding Juni 2018. Ekspor ini disumbang oleh sektor migas sebesar US$1,43 miliar dan non migas US$14,81 miliar.

“Nilai ekspor per sektor disumbang oleh migas menyumbang ekspor USD 1,43 miliar, pertanian USD 0,3 miliar, industri pertanian USD 11,79 miliar dan pertambangan serta sektor lainnya menyumbang USD 2,72 miliar," jelasnya.

Hanya saja, pertumbuhan impor ternyata lebih besar ketimbang ekspor. Seluruh golongan impor mengalami kenaikan di atas 50 persen secara bulanan. Impor barang konsumsi naik 70,5 persen secara bulanan karena ada impor beras dan apel dari China. Sementara itu, bahan baku mengalami kenaikan 59,28 persen secara bulanan gara-gara impor kacang kedelai, bahan organik, dan kapas.

Barang modal pun mengalami kenaikan 71,95 persen karena Indonesia masih mengimpor barang modal dalam bentuk engine generator dan portable receiver dari China. "Tapi karena ini barang modal, semoga bisa meningkatkan investasi ke depan," papar dia.

Dari sisi impor tercatat sebesar US$18,27 miliar atau naik 62,17 persen dibandingkan dengan Juni 2018. Migas menyumbang US$ 2,61 miliar dan non migas menyumbang impor US$ 15,66 persen.

Nilai impor tertinggi per sektor disumbang oleh konsumsi sebesar USD 1,72 miliar naik 70,50 persen. Bahan baku sebesar USD 13,67 miliar atau naik 59,28 persen serta barang modal diimpor sebesar USD 2,88 miliar atau naik 71, 95 persen.
(pin)