INVESTASI
Harga Minyak Naik (pin)
19/9/2018 12:54:22
603

Kemarin, Harga Minyak Global Naik 1 Persen

Harianlampung.com - Harga minyak global naik lebih dari 1%, kemarin sore, Selasa (18/9). Harga minyak naik setelah muncul tanda-tanda bahwa OPEC tidak siap meningkatkan produksi untuk mengatasi menyusutnya pasokan dari Iran.

Minyak mentah Brent berjangka naik 98 sen (1,3 persen) ke US$79,03 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 94 sen (1,4 persen) menjadi US$69,85 per barel.

Harga itu sudah terpangkas dari sebelumnya setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,2 juta barel menjadi 397,1 juta barel. Kenaikan stok ini berbalikan dari perkiraan analis yang memperkirakan penurunan 2,7 juta barel.

Menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen non-OPEC bertemu pada hari Minggu (16/9) untuk membahas kepatuhan pada kebijakan produksi.

OPEC mengatakan, tidak ada tindakan segera yang direncanakan dan para produsen akan mendiskusikan bagaimana membagi peningkatan produksi yang disepakati sebelumnya.

Bloomberg melaporkan pada hari Senin (17/9), mengutip sumber Saudi yang tidak disebutkan namanya, bahwa kerajaan itu saat ini merasa nyaman dengan harga di atas US$80 per barel, setidaknya untuk jangka pendek.

Arab Saudi tidak memiliki keinginan mendorong harga lebih tinggi dari US$ 80 per barel. Meski begitu, mungkin Arab tidak mungkin lagi untuk menghindarinya. Sanksi AS yang mempengaruhi sektor perminyakan Iran akan mulai berlaku mulai 4 November.

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi ingin minyak tetap berada antara US$70-80 per barel untuk saat ini karena eksportir minyak mentah terbesar di dunia ini menyeimbangkan antara memaksimalkan pendapatan dan menjaga harga tetap sampai pemilihan kongres AS.

Sementara itu, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan, harga minyak antara US$70-80 bersifat sementara, menambahkan bahwa dalam jangka panjang harga akan berada di sekitar US$50 per barel.

Pekan lalu, Sekretaris Energi AS Rick Perry saat di Moskow mengatakan, AS tidak memperkirakan bakal terjadi lonjakan harga begitu sanksi mulai berlaku, dan positif tentang produksi Saudi. 
(pin)