INVESTASI
Konferensi pers Bank BI Lampung (her/pin)
10/10/2018 19:46:23
974

Bank BI Lampung Merilis Capaian Kinerja Ekonomi Lampung Tri Wulan II 2018

Harianlampung.com - Pada ekonomi global dan domestik, pertumbuhan ekonomi global semakin tidak merata dan disertai ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi. Ekonomi AS diperkirakan tetap kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi, disertai tekanan inflasi yang tetap tinggi. Sesuai dengan perkiraan, The Fed menaikkan suku bunga kebijakan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 3x sampai dengan September 2018 sebagai bagian dari proses normalisasi kebijakan moneternya.

Demikian dalam sambutan yang dibacakan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampunh Budiharto S, saat menggelar konferensi pers bersama awak media, Rabu (10/10) di Bank BI setempat.

Sementara itu kata dia, pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market dan Eropa diperkirakan lebih rendah dari prakiraan, disamping perkiraan ekonomi Jepang dan Tiongkok yang juga menurun.

Tidak meratanya pertumbuhan ekonomi global tersebut tidak terlepas dari ketegangan perdagangan antara AS dengan sejumlah negara lain. Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global juga mendorong para investor menempatkan dananya di aset-aset yang dianggap aman, khususnya di AS. Berbagai perkembangan tersebut pada gilirannya mengakibatkan dolar AS terus menguat yang kemudian mendorong aliran modal keluar dari negara-negara emerging market dan akhirnya menekan banyak mata uang negara berkembang, tutur Budiharto.

Meski demikian, perekonomian Indonesia di triwulan II 2018 tercatat meningkat cukup tinggi, hal ini tercermin pada PDB triwulan II 2018 yang tumbuh sebesar 5,27% (yoy) atau merupakan capaian tertinggi sejak 2013. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh permintaan domestik dari konsumsi swasta dan pemerintah, terang dia.

Disamping itu tambah dia, pencapaian inflasi per bulan September tercatat cukup rendah dan terkendali pada kisaran sasaran 3,5±1%. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2018 tetap kuat didorong permintaan domestik. Investasi tetap baik seiring dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur sehingga mendorong perbaikan konsumsi swasta.

Selain itu, belanja pemerintah yang tetap kuat dan stabilitas makro ekonomi yang terjaga akan mendukung momentum perbaikan ekonomi.

Menurut dia, ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian tersebut dengan melakukan upaya stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, menjaga bekerjanya mekanisme pasar serta mendukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan melalui langkah-langkah seperti,

memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan eksternal dalam kondisi ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi, lalu, menerapkan kebijakan yang bersifat pre-emptive, front loading dan ahead of the curve dalam pengaturan suku bunga serta menjaga inflasi sesuai dengan sasarannya. Bank Indonesia telah menaikkan BI7DRR sebesar 150 bps sejak Mei 2018 sebagai upaya untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.

Lalu, Intervensi ganda (dual intervention) di pasar valas dan di pasar surat berharga negara (SBN) untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Di pasar valas, BI  meningkatkan efektivitas penyediaan swap valas baik dalam rangka operasi moneter maupun dalam rangka hedging dengan tingkat harga yang lebih murah disamping penciptaan instrumen lindung nilai baru melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Hal ini jelas Budiharto, diyakini akan memperkuat alternatif instrumen pengelolaan likuiditas di pasar dan mendukung stabilitas nilai tukar tukar Rupiah. Di samping itu, strategi Operasi Moneter diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan pasar swap antar bank.

Langkah lain, akselerasi pendalaman pasar keuangan melalui implementasi IndONIA sebagai suku bunga acuan pasar uang dan akan diikuti dengan pengembangan instrumen OIS (Overnight Index Swap) dan IRS (Interest Rate Swap) sehingga mampu mendukung pembentukan struktur suku bunga pasar yang lebih efisien.

Setelah itu,komunikasi yang intensif khususnya kepada pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional sehingga dapat memitigasi kecenderungan nilai tukar rupiah yang terlalu melemah (overshooting).

Maka,pertumbuhan Ekonomi Lampung pada triwulan II 2018 mampu tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 5,35% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 4 (empat) tahun kebelakang, maupun pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional masing-masing sebesar 5,08% (yoy), 4,65% (yoy) dan 5,27% (yoy). Sesuai dengan pola seasonalnya, pertumbuhan ekonomi di periode laporan juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 5,10% (yoy).

Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung yang tinggi pada triwulan II 2018 ini ditopang oleh masih kuatnya konsumsi rumah tangga serta perbaikan net ekspor, disamping investasi yang cukup solid. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor konstruksi serta sektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor.

Kemudian, inflasi IHK Provinsi Lampung pada triwulan II & III 2018 tercatat terkendali dengan pencapaian masing-masing sebesar 2,80% (yoy) dan 2,87% (yoy). Hal ini terutama ditopang oleh rendahnya pencapaian inflasi kelompok bahan makanan sebesar masing-masing 3,57% (yoy) dan 3,43% (yoy) di triwulan II dan III 2018, dibawah rata-rata pencapaian inflasi kelompok bahan makanan selama 3 (tiga) tahun kebelakang.

Pencapaian ini tidak lepas dari upaya Tim Kerja Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang intensif dalam melakukan pengendalian harga.

Namun demikian, kata Budiharto, ditengah rendahnya pencapaian ini, inflasi IHK Provinsi Lampung secara tahunan tercatat masih berada di atas level inflasi Sumatera sebesar 2,53% (yoy), meski pencapaiannya cenderung sama dengan Nasional sebesar 2,88% (yoy), selain itu, stabilitas sistem pembayaran dan kuangan sejalan dengan akselerasi pemulihan perekonomian domestik, tandas dia.
(her)