KAWASAN
Ilustrasi (pin/ist)
11/2/2018 10:17:36
913

Stunting Hantui Warga Lampung Tengah

Harianlampung.com - Dibawah kepemimpinan bupati Mustafa, kondisi warga di Kabupaten Lampung Tengah masih banyak yang berada dibawah garis kemiskinan. Hal itu terlihat dari tingginya jumlah warga miskin dan balita penderita stunting di daerah tersebut.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Dari data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), tahun 2016 yang dirilis pada 2017,  jumlah penderita stunting di Kabupaten Lamteng mencapai 59.838 ribu jiwa.

Faktor utama yang menyebabkan tingginya jumlah penderita stunting/anak tidak tumbuh dengan normal, atau gizi buruk, ialah ekonomi.

Banyaknya warga daerah tersebut yang memiliki tingkat perekonomian rendah, menyebabkan ketidakmampuan orang tua untuk mencukupi kebutuhan pangan dan kurangnya asupan gizi ibu hamil dan anak balita di keluarganya.

Data Kemenko PMK RI menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 165.67 ribu jiwa.

Pengamat Ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL), Syahrir Daud mengatakan, ekonomi adalah lingkaran setan. semua permasalahan seperti stunting, gizi buruk, pendidikan rendah, angka kejahatan meningkat, semua dipengaruhi oleh lemahnya ekonomi warga, atau masih banyak penduduk yang hidupnya masih berada dibawah garis kemiskinan.

"Urusan perut rakyat harus dipikirkan, pemerintah harus memikirkan bagaimana bisa suistanabel mengangkat kesejahteraan masyarakat," kata dia Sabtu (10/2).

Terkait adanya warga yang menderita stunting, pemerintah harus memberikan perhatian khusus. Selanjutnya, jika kemiskinan penduduk tidak segera ditanggulangi, maka otomatis akan terjadi multiplayer effect akibat gizi buruk itu.

"Pertama ialah menurunnya kualitas sumber daya manusia, akan membengaruhi fisik, mental, rendahnya pendidikan akan berdampak pada kebodohan warga yang berada di lingkaran garis kemiskinan," jelasnya.

Pemerintah, kata  Syahrir, harus mencari solusinya, bagaimana membantu untuk mengangkat ekonomi warganya, melalui ekonomi mikro, ekonomi kerakyatan, dan memberikan banyak lapangan pekerjaan, maupun sumber ekonomi lainnya.

"Jangan memberikan bantuan-bantuan yang sementara saja, ini tak akan menyelesaikan masalah, harus berkelanjutan," tegasnya.

Lebih lanjut Syahrir, menjelaskan, Pemerintah yang mempunyai porsi kebijakan harus mengatasinya, ini bukan hal yang mudah. 

"Jika dibiarkan terus menerus, maka jumlah penduduk miskin akan semakin meningkat. Pihak terkait harus turun tangan," katanya.
(fik)