LAMPUNG TIMUR
Yusdianto (pin/ist)
19/12/2017 12:42:17
529

Bila PKB Serius, Nunik Jadi Cagub

Harianlampung.com - Niat Chusnunia Halim ingin maju pada kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung tahun 2018 mendatang bisa menciptakan poros baru. Syaratnya Bupati Lampung Timur itu maju sebagai calon gubernur. Bukan hanya sebatas ingin menjadi pendamping calon gubernur lainnya.

“Dia layak maju menjadi cagub, bila Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memang serius mendukung,” ungkap Yusdianto, pengamat hukum dari Universitas Lampung (Unila) menanggapi pernyataan Nunik, sapaan akrab Bupati Lampung Timur kepada wartawan, pekan lalu.

Menurut Yusdianto, sepanjang ini, calon kandidat gubernur yang digadang-gadang, semuanya pria. “Nunik bisa meletakkan sejarah, menjadi Gubernur Lampung perempuan pertama kali, jika dia berhasil memenangkan kontestasi. Masyarakat ada alternatif pilihan, dan peluangnya ada.”

Kata alumnus Fakultas Hukum Unila ini, Nunik tidak tepat jika hanya ingin menjadi calon wakil gubernur. “Dia sekarang bupati. Pengambil keputusan kebijakan di Lampung Timur. Bila jadi cawagub, bisa dimaknai sebagai langkah mundur,” ujar Yusdianto melalui sambungan telpon kepada harianlampung.com, Selasa (19/12).

Bila PKB memang sungguh-sungguh mendukung Nunik, lanjut Yusdianto, artinya dia sudah memiliki 7 kursi. “Tinggal mengajak koalisi partai lain yang selama ini, secara politik senafas dengan PKB yang belum mengusung cagub. Bisa dengan Gerindra atau PAN dan PKS.”

Hingga hari ini, jelas Yusdianto, calon gubernur yang ada di Ruang Publik, Ridho, Mustafa, Arinal dan Herman belum ada yang memastikan secara konkrit ingin maju berpasangan dengan siapa dan diusung partai mana saja. “Buktinya mereka belum ada yang mendeklarasikan diri.”

Kondisi politik yang demikian, ujar Yusdianto, menjadi peluang yang baik untuk Nunik. “Politik masih dinamis. Peluang terbuka lebar. Kuncinya adalah sejauhmana PKB dan Nunik mampu melakukan negoisasi.”

Yusdianto menerangkan, Mustafa dan Herman saat ini menduduki jabatan yang sama dengan Nunik. Bupati dan Walikota. “Mereka maju jadi cagub, bukan cawagub. Arinal saja yang belum pernah jadi Bupati berani nyagub. Masak Nunik cuma hanya mau jadi cawagub. ”katanya.

Bila hanya merujuk pada aturan yang ada, langkah bupati atau walikota maju pada konstetasi Pilgub jangan hanya sekadar berspekulasi. “Gagal pada kontestasi Pilgub, jabatan lama tetap tak hilang. Ini sama artinya memainkan suara rakyat. Kan tidak baik,”ujar Yusdianto.
(iqb)