TANGGAMUS
Ilustrasi (pin)
21/1/2018 18:08:38
404

Pemkab Tanggamus Evaluasi Pelaksanaan Transmigrasi

Harianlampung.com - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Tanggamus dalam waktu dekat akan melaksanakan kunjungan evaluasi ke lokasi transmigrasi nelayan Tanggamus di Kalimantan.

Kepala Disnaker Tanggamus Drs. Aswin Dasmi didampingi Kabid Tenaga Kerja Hj. Afrida Susanti mengatakan, para nelayan tersebut terdiri dari lima kepala keluarga (kk) asal Tanggamus yang dikirim pada tahun 2015. Dua tahun terhitung sejak para peserta transmigran memulai hidup di lokasi transmigrasi, Pemkab akan melakukan evaluasi.

"Evaluasi kami lakukan ketika peserta transmigrasi memasuki masa dua tahun berada di daerah yang dituju. Tujuannya memastikan bahwa mereka  dalam kondisi yang baik dalam segala aspek. Kami memang selalu memberikan daerah transmigran yang subur, baik itu dari sektor lahan untuk bertani maupun di sektor tangkapan lautnya," jelas Dasmi, Minggu (21/1).

Afrida menambahkan, untuk Kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama ini sendiri dalam kurun waktu tiga tahun selalu mendapatkan kuota dari program transmigrasi besutan dari Pemerintah Pusat. Khusus Kalimantan, sudah dua kali peserta transmigrasi dengan dua katagori, nelayan di 2015 dan tahun 2016 sebanyak 15 KK untuk katagori petani. 

Pada 2017, lanjut Afrida tepatnya pada 22 Desember diberangkatkan sebanyak 5 KK ke daerah Provinsi Gorontalo, bagian barat dari Sulawesi Utara dengan katagori petani. Dan setelah masuk dua tahun masa transmigrasi maka Pemkab Tanggamus akan kembali melakukan tinjauan, seperti yang akan dilaksanakan pada tahun ini.

"Untuk kuota peserta transmigrasi ini sendiri kita tidak bisa melakukan pengajuan kepada pusat, tapi memang pusatlah yang melakukan plot kuota kepada setiap Pemprov, kemudian dibagi lagi kepada Pemkab masing-masing. Kalaupun bisa bertambah kuotanya, itu dikarenakan ada dari kabupaten lain yang belum sanggup memenuhi kuota yang diberikan, maka bisa dialihkan ke kabupaten lain yang sudah siap," jelasnya.

Ia mengatakan, bahwa para peserta transmigrasi ini sendiri selama dua tahun seluruh biaya akan ditanggung oleh pemerintah setempat, mulai dari kebutuhan sandang dan pangan. Saat pihak Pemkab Tanggamus mendampingi kelokasi transmigrasi di Sulawesi, para peserta sudah mendapatkan tempat tinggal yang permanen, dilengkapi dengan aliran air bersih PDAM dan listrik. Dan masing masing KK diberikan lahan seluas 1,5 hektare untuk berkebun, bagi yang katagori petani, dengan rata rata menanam cengkeh, karena memang tidak diragukan lagi hasil cengkeh dari Sulawesi memiliki kualitas yang sangat bagus.

"Jadi tidak heran jika harga cengkeh dari Sulawesi itu mahal, karena memang bagus dan lokasinya juga sangat sejuk dan subur. Nah kalau untuk katagori nelayan hanya beda di pemberian alatnya saja, ya kalau nelayan pasti dipenuhi alat untuk menangkap ikan. Sementara yang petani ya lahan dan bibit cengkeh. Kalau masalah tempat tinggal itu sama saja," terang Afrida.

Ia juga menjelaskan, bahwasanya menjadi peserta transmigrasi ini sendiri tidak lah mudah, karena ada beberapa fase test yang harus di lalui. Dimulai dari pendaftaran setelah dilakukan sosialiasasi, seleksi berkas dan terakhir akan menjalani psikotes bagi yang berkasnya diterima. Kemdian peserta yang lulus dalam psikotes itu artinya sudah layak dan siap untuk diberangkatkan ke daerah tujuan transmigrasi. Namun sebelum itu diberikan bekal pengetahun berupa pelatihan selama satu minggu di Jakarta. Seluruh biaya transmigrasi di tanggung pusat dan kurun waktu dua tahun Pemkab setempat (daerah transmigrasi) yang menanggungnya.

“Setelah pelatihan, tingggal menunggu jadwal pemberangkatan saja dari pusat. Dimana nantinya akan dikumpulkan dititik pemberangkatan yakni di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara bersama dengan para peserta transmigrasi lainnya dari berbagai kota di berbagai provinsi dengan menggunakan kapal laut yang cukup mewah. Dan memang program transmigrasi ini sendiri bertujuan untuk mengangkat taraf kehidupan warga Indonesia yang lebih baik," pungkasnya.


(zim/iqb)