TULANGBAWANG
Pasangan Winarti dan Hendriwansah (pin/ist)
08/9/2017 15:26:21
334

Winarti-Hendriwansah Dinilai Khianati Rakyat Tuba

Harianlampung.com - Hal tersebut menyusul mundurnya Fraksi PDI-Perjuangan (PDI-P) dan Fraksi PAN DPRD Tulang Bawang (Tuba) dari keanggotaan Panitia Khusus (Pansus) Persoalan Tanah antara Masyarakat Gedung Meneng, Gunung Tapa dan Dente Teladas.

Pada Pilkada 2017 lalu, pasangan bupati terpilih itu diusung oleh dua partai tersebut. Terlebih Winarti merupakan Ketua DPC PDI-P Tuba. Sementara, Hendriwansah merupakan Ketua DPD PAN Tuba.

Dr. Dedy Hermawan, Dosen Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Lampung (Unila) mengatakan mundurnya kedua fraksi tersebut menimbulkan sentimen negatif dan citra miring kepada Winarti dan Hendriwansah, sebagai, Bupati dan Wakil Bupati Tuba terpilih.

“Mundurnya Fraksi PDI-P dan Fraksi PAN bisa dikatakan menandakan keduanya (Winarti dan Hendriwansah) yang merupakan ketua partai itu telah mengkhianati dan mengingkari perjuangan rakyat yang memilih mereka sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tuba pilkada lalu,” katanya

Menurut Dedy, dengan sikap keluar pansus PT. SGC, timbul pertanyaan besar di masyarakat. Jangan-jangan keduanya di pilkada lalu disokong dan didanai perusahaan. Pertanyaan ini mulai timbul di masyarakat bawah. Mereka meragukan komitment keduanya memimpin Tuba lima tahun kedepan. Patut diduga, mereka lebih mengedepankan kepentingan pihak perusahaan daripada rakyat Tuba.

“Ini ada apa. Belum dilantik sudah pasang badan buat perusahaan. Apalagi jika sudah dilantik. Mau dibawa kemana Tuba lima tahun kedepan. Padahal tujuan Pansus PT. SGC membantu masyarakat Tuba memperjuangkan keadilan. Tapi jika begini timbul penyesalan di pendukung mereka yang telah memilihnya sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tuba pilkada lalu,” katanya.

Karenanya Dedy menghimbau masyarakat terus kritis mensikapi kebijakan keduanya.

“Jika pemimpin saja sudah tidak peka penderitaan rakyat, bahkan berani menghianati perjuangan rakyat memperoleh keadilan, maka hanya satu jalan rakyat Tuba harus berani tampil dan kritis terhadap keduanya,” katanya

Sebelumnya hal senada disampaikan Yusdianto, S,H., M.H. Staf pengajar Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Hukum (FH) Unila ini juga memprediksi popularitas Winarti-Hendriwansah pasca Fraksi PDI-P dan PAN keluar Pansus PT.SGC akan melorot tajam. Terutama di masyarakat kecil, seperti kaum buruh, tani dan nelayan serta rakyat miskin.

Imbasnya ini bisa berakibat menurun perolehan suara pada momen Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun pilkada. Menurut kandidat doktor pada FH Universitas Padjajaran (Unpad) ini, keluarnya Fraksi PDI-P dan Fraksi PAN berpengaruh citra partai. Terutama PDI-P yang selama ini basis pemilihnya masyarakat kecil. Seperti kaum buruh, tani dan nelayan serta masyarakat miskin.

“Jadi kedepan saya yakin PDI-P akan ditinggalkan basis pemilihnya. Terutama di Tuba. Kini tercipta stigma partai ini lebih mengedepankan dan membela kepentingan perusahaan (Sugar Group,red), ketimbang membela rakyat pemilihnya,” tutur Yusdianto.

Dengan demikian, PDI-P kini lanjut Yusdianto tidak bisa lagi menjual jargon dan isu sebagai partainya “wong cilik”.

“Bagaimana bisa dikatakan partai wong cilik, jika yang dibela justru penguasa atau pengusaha. Ini yang tidak mereka sadari. Saya yakin, perolehan suara nanti baik dalam Pileg atau terhadap calon yang diusung saat pilkada merosot jauh. Karena telah terjadi krisis kepercayaan di masyarakat,” jelas Yusdianto.

Yang membuat miris, baik Ketua DPC PDI-P Tuba, Winarti maupun Ketua DPD PAN Tuba, Hendriwansyah, papar Yusdianto merupakan Bupati dan Wakil Bupati Tuba terpilih yang belum dilantik.

“Kini timbul pertanyaan, belum dilantik saja sudah jelas arahnya membela perusahaan. Apalagi jika sudah dilantik. Sekarang saja sudah timbul penyesalan di masyarakat,” kata Yusdianto.
(pin)