PARIWISATA
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika (pin/dok)
02/11/2017 12:51:06
175

KEK Pariwisata, Cara Menggenjot Target Wisman

Harianlampung.com - Saat ini, Indonesia menduduki posisi Top 20 the Fastest Growing Destination in the World. Sektor pariwisata kini menjadi menyumbang nomor dua dalam industri perekonomian Indonesia. Pemerintah terus menggenjot target kunjungan wisata.

Kementerian Pariwisata terus berupaya penuhi target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) untuk menembus target 20 juta dan 270 juta wisatawan nusantara (wisnus) pada tahun 2019. Salah satunya dengan membentuk membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di setiap daerah terutama 10 destinasi prioritas.

“Indonesia beruntung karena sudah memasukkan pariwisata menjadi salah satu leading sector perekonomian. Selain itu masih ada 4 sektor yang menjadi andalan tahun 2017 ini, yaitu  food, energy, maritime dan industry zone and special economic zone. Sedangkan pariwisata pada tahun ini menghasilkan devisa Rp190 triliun dan menjadi menyumbang devisa kedua terbesar," kata Menteri Pariwisata Arie Yahya, usai menjadi sebagai keynote speaker di - Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 di Jakarta, Rabu (01/11).

Dijelaskan, untuk memenuhi target tersebut pihaknya sudah membentuk KEK Pariwisata di setiap daerah terutama 10 destinasi prioritas. Tapi tak bisa dipungkiri,  sistem regulasi di Indonesia masih sulit, terutama bagi wisman dan para investor untuk mengembangkan pariwisata.

"Lempar dari meja ke meja pun masih sering terjadi di dinas pemerintahan. Padahal Indonesia di Bisnis Environment dunia menduduki posisi ke 63 dari 140 negara. Posisi ini karena lembaga-lembaga dunia menilai kita sudah dalam izin. Poin yang membuat ini rendah adalah permit, izin-izin kita dianggap perizinan terlalu berbelit-belit. kitalah yang harus merubah. Tak bisa dipungkiri jika selama ini regulasi memang cukup sulit untuk diubah," paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Arief, pihaknya membuat KEK untuk mempermudah perizinan. Sehingga orang ingin investasi mudah dengan sistem satu pintu untuk mengembangkan pariwisata dan tidak ada lagi saling lempar antar meja. Jika perizinannya mudah, tentu saja akan membuat posisi Indonesia semakin tinggi di mata dunia. Sebab jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand, Indonesia masih ketinggalan jauh.

"Padahal dari segi keindahan alam, Indonesia menang. Jadi, buatlah orang berinvestasi di Indonesia lebih mudah dan sesederhana itu. Sehingga Indonesia tidak lagi mendapat kritikan dalam hal enviromental sustainability. Karena dianggap kurang peduli dengan kelestarian alam sehingga tidak mengedepankan pariwisata berkelanjutan. Makanya, kami sedang dan akan terus menjaganya," imbuhnya.

Menurutnya, kehadiran KEK ini dapat membantu mempercepat pertumbuhan pariwisata di sebuah daerah, seperti ITDC Nusa Dua Bali. Hanya saja, Nusa Dua membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadi seperti saat ini. Kehadiran KEK juga  bisa lebih cepat karena sistem pelayanan satu pintu dinilai efektif untuk mengembangkan destinasi wisata.

"Kini pariwisata Indonesia memang tidak tidur sehingga komponen pariwisata Indonesia bisa bergerak lebih gesit. Karena pariwisata kita di masa dulu amat lelet sekali pertumbuhannya sehingga  berpengaruh ke sektor lainnya. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia," katanya.

Pada kesempatan yang sama, pakar ekonomi dan politik Faisal Basri meragukan target 20 juta wisman berkunjung ke Indonesia pada tahun 2019, bisa tercapai. Apalagi, devisa sejumlah Rp280 triliun pun ternyata disangsikan. Keraguan itu karena ada beberapa hal yang belum dipenuhi oleh pemerintah.

"Intinya, kita tidak bisa mencapai target yang dipengaruhi variabel-variabel yang tidak dapat dipenuhi pemerintah. Tapi paling tidak mendekati. Sebab, perhitungan dari data BPS, saya memperkirakan jumlah wisman yang akan tercapai di tahun 2019 hanya sebanyak 15 juta," tegasnya.

Oleh sebab itu, tambah Faisal, sebaiknya pemerintah tak hanya mengutamakan wisman. Namun potensi wisnus yang luar biasa juga harus diperhitungkan. Sehingga ada pandangan bahwa turis domestik lebih penting daripada wisman.

Karena sebanyak 78 juta atau lebih dari 30 persen penduduk Indonesia bisa jalan-jalan. Hal itu lebih dari penduduk Malaysia.

"Pemerintah harus memberikan bantuan dan mempermudah akses ke destinasi. Sehingga orang Indonesia bisa menikmati liburan dan jalan-jalan di dalam negeri dengan murah. Selain itu, juga memiliki rass kebanggaan tersendiri jika liburan ke negeri sendiri daripada ke luar negeri," ulasnya.

Dijelaskan, ada beberapa hal yang bisa diberikan atau dilakukan dalam mencapai target itu. Di antaranya, pemerintah bisa bekerjasama dengan pihak bank yang memiliki program kredit usaha rakyat (KUR). Dana pinjaman tersebut bisa diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar daerah wisata untuk merenovasi rumahnya yang bisa dijadikan seperti homestay.

"Namun saat ini KUR hanya bisa digunakan sebagai usaha ekonomi tertentu. Jadi, tidak bisa dipergunakan untuk seperti itu. Padahal seharusnya gembar-gembor untuk menarik wisman juga dilakukan di Indonesia, seperti halnya di dunia internasional," ucapnya.  

Diakui Faisal, saat ini terjadi persaingan amt sengit untuk menarik wisman. Hal itu terlihat salah satunya, saat negeri Jiran ingin menarik wisatawan Eropa dengan membuat stan besar di sudut Trafalgar Square Inggris. Sedangkan, Indonesia belum melakukannya.

"Kembali ke target pemerintah, sebanyak 20 juta wisman diharapkan berkunjung ke Indonesia sampai tahun 2019. Sehingga kedatangan mereka bisa menghasilkan devisa hingga mencapai Rp280 triliun. Sedangkan dari sisi wisnus diharapkan menghasilkan 275 juta perjalanan. Hitung-hitungan di atas itu tidak ketemu di kepala saya," pungkasnya.
(pin)