POLITIK
Spudnik Sujono (pin/dok)
19/5/2017 16:56:34
184

Kementan Akan Wajibkan Importir Tanam Bawang Putih

Harianlampung.com - Kementerian Pertanian (Kementan) berencana mewajibkan para importir untuk menanam bawang putih di dalam negeri. Terkait itu, Kementan merevisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 86 tahun 2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) pasal 11 tentang kewajiban-kewajiban importir.

Dirjen Hortikultura Kementan, Spudnik Sudjono mengatakan, dalam revisi ini importir berkewajiban menanam bawang putih sebesar 5 persen dari kuota impor yang diperoleh. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadikan Indonesia swasembada bawang putih. Karena hingga saat ini sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih nasional masih berasal dari impor China.

"Kami sudah melakukan public hearing dengan para impotir bawang putih terkait wacana revisi kewajiban impor tersebut. Sekarang kami melakukan sosialisasi dari Permentan yang direvisi tersebut. Saat ini para importir masih melakukan penghitungan agar petani tidak dirugikan," katanya kepada polindonetwork diusai melakukan penandatangan MoU dengan Pertani terkait benih bawang putih yang dilanjutkan dengan sosialisasi Permentan yang direvisi di Kantor Ditjen Hortikultura, Jakarta, Jumat (19/05).

Diakui Spudnik, bawang putih memang tengah menjadi sorotan karena harganya yang melonjak tinggi hingga mencapai Rp60.000 per kg. Namun, saat ini lonjakan harga bumbu dapur tersebut sudah bisa diatasi dengan mengelar operasi pasar bawang putih asal China seharga Rp35.000 per kg.

"Impor itu setiap tahun sekitar 400.000 ton. Kalau importir dipaksa tanam sebanyak 5 persen dari kuota impornya, maka importir harus produksi bawang putih lokal 20.000 ton. Dengan perhitungan produksi per hektar 6 ton. Jadi tahun depan sudah ada lahan bawang putih yang dibuka sekitar 3.200-3.300 hektar," paparnya.

Menurutnya, keharusan menanam bawang putih lokal oleh importir mulai berlaku tahun depan. Untuk tahun ini, pihaknya berharap para importir harus mulai mencari lahan untuk lokasi tanam jika ingin rekomendasi impor bawang putih bisa keluar. Untuk itu, pihaknya memberi waktu hingga tahun depan untuk mencari lahan.

"Nanti para importir harus mau tanam sendiri. Bibitnya sudah kami sediakan. Para importir harus sanggup memproduksi 5 persen dari kuota impor. Mereka bebas memilih, mau tanam sendiri atau kerjasama dengan kelompok petani. Saat sosialisasi tadi juga tidak ada keberatan dari para importir bawang putih" ujarnya.

Selain itu, RIPH diatur menjadi sepanjang tahun, dari sebelumnya diatur dalam dua semester per tahun. Jumlah permohonan paling banyak satu kali untuk satu pemohon dalam setahun sejak Januari-Desember. Dalam revisi tersebut juga memuat sanksi bagi pelaku usaha bila dokumen yang diajukan tidak benar, serta tidak melaporkan realisasi impor.

"Untuk meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri, kami juga tengah mengem­bangkan bawang putih di dataran rendah agar produksi bisa dilipatgandakan. Varietas bawang putih lokal yang ada saat ini, baru bisa dibudidayakan di dataran tinggi berhawa sejuk," tutup Spudnik.
(pin)